Kamis, 08 Desember 2016

MAAFIN YA?

"Ya ampun, gue lupa!" seruku di telepon. "Aduh, Qimi.. kenapa bisa lupa, sih? kemarin kan, gue udah ngingetin loh, vuat beli cake buat John". "Sorry, Mel. Sorry. Abisnya, gue sibuk banget belakangan ini" ujarku membela diri. Padahal sebenarnya aku inget. Tapi, gara-gara aku lagi bertengkar sama John, makanya aku nggak bawa barang yang sama Imelda disuruh bawa.

Hari ini temen-temenku niat pergi ke rumah John buat kasih dia surprise. Soalnya, hari ini John lagi ulang tahun. Tapi, kemarin lusa, aku sempat bertengkar sama dia gara-gara dia jatuhin aku ke kolam renang di rumahku. Sebenernya sih, bukan masalah besar, tapi berhubung pas hari itu aku lagi bad mood dan nggak mau diganggu, jadi deh berantem. Padahal aku udah nolak buat ikut ke acara hari ini. Tapi temen-temenku maksa. "Ayo, Qim. Masa kamu nggak ikut sih?" "Iya, dia kan temen loh sejak kecil" "Iya Qim, kalo ga ada loh, ga seru, ga lengkap!". Apa boleh buat..

"Gimana nih? Mana acaranya udah mau mulai.." Suara panik Imelda terdengar di ujung sana. Aku merasa bersalah. "Iya sih, aku memang lagi kesel sama John. Tapi aku harusnya nggak bikin panik temen-temenku juga" pikirku. "Gue usahain ya, Mel?" ujarku akhirnya. "Iya deh, iya. Gue tunggu kabar dari loh,ya?"ujarnya lalu menutup telepon. "Dasar!" ujarku sambil menatap teleponku.

Waktu itu aku lagi makan di resto deket rumah John pas Imelda telepon. Niatku sih, pingin ngacauin acara surprise ini. Tapi berhubung Imelda panik setengah mati, terpaksa deh aku balik pulang buat ngambil cake ulang tahun. Sebenerya, aku memang sudah beli cake itu, cuman nggak aku bawa.

"Hufftt.. sampai juga di rumah" keluhku. "Lho, Qimi? kamu kok udah pulang? Acaranya sudah selesai?" tanya mama heran. "Belum mulai, ma. Cake buat John ketinggalan!" ujarku sambil senyum-senyum gak jelas. "Ya udah. Sana diambil. Ntar telat lho.." kata mama. "Iya, ma".

15 menit kemudian, aku sampai di rumah John. Kelihatannya acaranya sudah mulai, karena dari dalam rumah, suaranya ribut banget. Aku ragu-ragu mau masuk atau nggak, jadi aku telepon Imelda dulu. "Kok ngga diangkat sih?" tanyaku. Dengan berat hati akhirnya aku melangkah masuk ke rumah John. Waktu aku masuk, Imelda langsung menghampiriku dengan raut khawatir. "Gimana?" tanyanya. "Nih" aku menyodorkan kue itu kepadanya. "Lo gue telpon kok nggak diangkat sih?" tanyaku. "Sorry, sorry. nggak denger" jawabnya "Ayo masuk. Dah ditungguin dari tadi".

Dan bener, pas aku masuk, acaranya udah mulai. "Akhirnya loh dateng juga, Qim" kata Gina. "Iya padahal awalnya loh nangis-nangis ngga mau ikut" tambah Owen. "Gue nggak nagis-nangis kali!" bantahku. "Hai, Qimi!". Dan, bener aja waktu aku balik badan, John berdiri di sana dengan senyum lebar. "Gue kira lo ga bakal dateng!" tambahnya. "Iihh, jangan ge er dulu ya. Gue ga akan dateng kalau ga terpaksa!" sahutku, yang entah kenapa membuat senyum di wajahnya tambah lebar. "Ya elah, Qim. Gue tau kok, lo sebenernya kepingin dateng, cuman gengsi!" balasnya. Teman-temanku tertawa. "Iihh, loh ya.." belum selesai aku bicara, tiba-tiba dia mencubit pipiku. Haduh, nih anak! "Aduh! lo tuh ya.." "By the way, gue minta maaf ya, buat minggu lalu. Gue beneran ga tau kalo lo lagi bad mood" katanya tiba-tiba. Aduh, disela lagi. Tapi entah kenapa, aku kali imi ga marah. Aku akhirnya just nunduk kebawah sambil mikir, enaknya dimaafin atau nggak. Akhirnya, "Iya deh. Gue maafin. Tapi lain kali liat-liat dulu dong, kalo bercanda!" jawabku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Dasar John, paling tau cara buat aku ga ngambek lagi. ;)



Oleh : Cherish R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar