Senin, 21 Oktober 2019

Cerpen I Bukan Generasi Biasa


BUKAN GENERASI BIASA
oleh: Yovita H 9C/6213


Ruang kelas 10m × 10m, aku duduk di pojok ruangan itu, menyendiri dan bersandar pada dinding ubin putih.Aku memandang bosan ke arah papan tulis, melihat ratusan huruf yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Namun, aku lebih bosan lagi mendengar suaranya. Dia yang sedang menjelaskan sebuah materi yang aku pun tidak tahu apa materi tersebut.Namanya Bu Lisa, guru matematika, yang sekarang sedang menghadap papan tulis putihsembari menjelaskan apa yang ia tulis. Saat dia sudah di depan, tak ada yang berani berbicara dengan teman bahkan bisik-bisik pun tidak. Seakan-akan kehadirannya memberikan kengerian tersendiri bagi murid-muridnya.
Tik... tik... tik...
Jarum jam dinding terus berjalan. Semakin ditunggu semakin terasa lama. Untungnya Bu Lisa sudah berhenti berpidato di depan kelas. Setidaknya hal itu mengurangi rasa bosanku walau hanya sedikit. Aku tahu apa yang ada di pikiran teman-temanku. Mereka pasti menunggu pukul 10.15, jam istirahat. Dan.....
Kringggg.....
Yang mereka tunggu telah tiba. Semangat mereka seketika kembali. Semuanya langsung berdiri dari tempat duduk. Beberapa detik kemudian kelas sudah kosong, menyisakan aku dan Kai, salah satu dari sekian banyak sahabatku.
“Mau kemana?” tanya Kai singkat.
“Gtw.”
“Kita ke kantin, kuy!” ajak Kai.
Kai langsung jalan menuju kantin tanpa menunggu jawabanku.Menyebalkan. Aku terpaksa mengikutinya walau sebenarnya aku malas.Kami melewati ruang kelas XI, lorong kecil, lapangan voli, dan tiba di kantin yang sudah cukup padat. Kai berjalan ke arah meja di luar area kantin yang terletak di dekat taman. Disitu sudah ada Olla, Ellen, Selvie, dan Jollyn. Tersisa dua tempat kosong lagi, yaitu untuk aku dan Kai.Tanpa menunggu aba-aba duduk, kami sudah duduk.
Sunyi. Satu kata untuk menggambarkan suasana di meja kayu yang dikelilingi enam siswi SMA ini. Dibandingkan dengan suasana di dalam area kantin, meja kayu ini terasa hambar. Area kantin dipenuhi siswa siswi yang sedang menikmati makanan atau bergurau dengan teman dekatnya di satu meja. Itu yang memang seharusnya dilakukan. Namun kami, berada dalam satu meja tanpa adanya suatu percakapan dan kegiatan selain memandang ke arah ponsel kami masing-masing.
Phubbing. Istilah itu cocok untuk sikap kami. Sikap kami yang saling acuh tak acuh karena terlalu fokus dengan ponsel dari pada membangun sebuah percakapan.Terutama Ellen, seorang selebgram dengan followerslebih dari tiga ratus ribu. Ia lebih mementingkan followers daripada pertemanan. Satu hal yang dapat menyudahi semua ini, bunyi bel masuk.
“Gw balik, ya,” kata Selvie.Tanpa pamit Olla, Ellen, dan Jollyn juga ikut kembali.
Kami kembali ke kelas masing-masing. Aku dan Kai di kelas XII C. Olla dan Ellen di kelas XII A. Selvie di kelas XII E. Jollyn di kelas XII F.
Aku masuk kelas dan semua temanku sudah duduk rapi di atas kursi.Sesiap itukah mereka menerima pelajaran? Aku yakin tidak. Itu hanya bagian dari pencitraan yang mereka lakukan demi mendapat nilai sikap A. Nilai yang benar-benar kami butuhkan. Apalagi kami sudah kelas XII, sebentar lagi kami sudah menghadapi Ujian Nasional, artinya sebentar lagi kami akan lulus. Untuk mendapat kelulusan kami harus bekerja keras mendapat nilai. Tidak hanya melalui nilai UN, nilai sikap juga kami butuhkan.
Pak Romi, guru fisika, masuk ke kelas dan menyapa kami, “Selamat siang...”
“Siang, Pak...” jawab sekelas serempak.
Pak Romi membagikan beberapa kertas berisi lima puluh soal fisika yang harus kita kerjakan.
“Kalian kerjakan, ya! Jangan berisik. Bapak akan menilai ulangan kalian.”
Suasana kelas langsung hening. Setiap mata mereka langsung menatap pada soal. Tangan mereka sergap mengenggam pensil. Otak mereka mulai berpikir. Semuanya diam. Kelas terasa sunyi menyisakan suara baling-baling kipas angin yang terus berputar. Sesekali anak-anak yang merasa frustasi dengan soal mengetuk-ngetukkan pensil mereka pada meja atau membuat ketukan dengan kaki. Tidak ada yang merasa terganggu dengan suara tersebut. Mereka tetap bisa fokus. Namun, lama kelamaan aku bosan dengan suasana ini. Aku pusing dengan soal ini. Aku menyegarkan pikiranku dengan bermain ponsel.
“Kai... Kai...”
“Apa?” tanya Kai.
“Gw lagi mabar, nih. Lu ikutan ga?” aku mengajak Kai.
“Kuota gw habis. Lagian lu ga takut ketahuan?”
“Ga lah. Gw kan mainnya di bawah.”
“Iya juga, sih. Emang lu udah selesai ngerjain?”
“Gwgangerjain. Nanti kalo lu udah selesai gw liat,” jawabku santai.
“Tapi nanti lu beliingw baju yang kemarin, ya,” Kai menatap licik.
“Iya-iya...” aku terpaksa menurutinya.
Kai kembali mengerjakan soal.Aku semakin asyik bermain gameonline.Tiba-tiba peluru pistolku habis. Tanpa sadar aku berteriak keras memenuhi ruangan. Membuat semua mata tertuju padaku.
“HADUHHHHH.... PELURUKU HABISSSSS....”
Pak Romi langsung berjalan ke mejaku dan menarik handphoneku dari tanganku.
“Itu kan handphonesaya, Pak. Bapak ga ada hak ngambil-ngambil.”
“Kok kamu ga sopan.”
“Bapak yang ga sopan! Tiba-tiba ambil handphonesaya.”
“Ini pelajaran, Sherlyn!” Pak Romi semakin tegas.
“Siapa bilang ini liburan. Saya juga tahu itu, Pak.”
“KELUAR KAMU!”
Bentakan Pak Romi memenuhi seluruh kelas. Suaranya mengalir hingga ke sudut ruangan. Semua siswa memandang ke arahku. Aku berhenti sejenak, menatap wajah Pak Romi kesal. Beberapa detik kemudian aku berdiri. Menatap seluruh kelas dan pergi dengan gaya yang sombong. Aku membuka pintu kelas, lalu keluar dan menutupnya secara keras. Pelajaran kembali berlangsung. Beberapa menit kemudian, bel terdengar. Waktunya pulang.
Saat bel terdengar, semua sibuk memasukkan buku-buku dan alat tulis di atas meja ke dalam tas. Seketika di atas meja tidak ada barang apa pun, kecuali di mejaku yang masih penuh barang. Saat semua siswa sudah keluar kelas, termasuk Pak Romi, aku masuk ke kelas. Kai masihmenungguku dalam kelas.
“Keren lu tadi. Bisa marah kayak gitu,” puji Kai.
“Hahaha. Udah biasa. Gw yakin lu kalo jadi gw bisa lebih marah dari itu,” aku balik memuji.
“Ya  udah ayo cepetan keluar. Yang lain pasti udahnunggu. Lu jadi beliingw baju kan?” Kai kembali mengingatkan janjiku.
“Iya iya...”
Aku dan kai pergi ke mall.Kami tidak hanya berdua, kami mengajak Ellen, Olla, Selvie dan Jollyn. Dengan terpaksa aku tidak hanya membelikan baju untuk Kai, namun untuk semuanya. Apalagi baju itu berharga mahal. Baju dengan stok terbatas. Terlihat paling wah diantara baju lain. Terletak paling depan. Baju dengan merk terkenal yang berasal dari luar negeri.
Tak hanya ke mall. Jollyn mengajak kami ke karaoke. Sudah lama kami tidak ke sana. Kami berkelana hingga lupa waktu, terlalu menikmati musik karaoke. Saat kami keluar, karaoke sudah akan tutup, satu jam lagi. Matahari sudah tenggelam jauh di sana. Langit sudah benar-benar gelap. Bintang-bintang menghiasi langit. Bulan tersenyum kepada bumi. Jalanan sudah sunyi. Semua orang sudah terlelap dalam mimpi. Mata mereka sudah terkejap melupakan hari ini. Ini sudah pukul 23.00.
Aku pulang tanpa takut. Tidak peduli apa kata orang tuaku.
“Kok baru pulang?” Ibuku bertanya serius.
“Habis dari karaoke,” aku menjawab cuek sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar.
“Kalau besok kamu pulang lebih dari jam satu siang, pintu sudah mama kunci.”
“Ga bisa gitudong, Ma. Aku juga butuh hiburan,” aku mencoba berkompromi.
“Kamu terlalu banyak hiburan. Nilai kamu turun semua. Mama juga tahu kalau tadi kamu disuruh keluar dari kelas. Sudah berapa kali kamu dihukum? Kamu sudah seperti anak tanpa etika. Setiap hari keluar, pulang malam. Besok pak sopir ga bisa ngantar. Kamu pulang sendiri. Ingat, jangan lebih dari jam satu siang,” Ia langsung pergi meninggalkanku.
Mau tidak mau aku harus mau. Walau mulutku ingin memberi pembelaan, namun rahangku hanya ingin mematung. Tubuh ini hanya terpaku di anak tangga. Tanganku mengepal keras lalu kulemaskan kembali. Kakiku ingin berlari membantah, namun tumitku serasa mati rasa. Mau tidak mau aku harus mau.
***
Mataku fokus memperhatikan jam dinding. Tangan kananku terus mengetuk-ngetuk meja. Tangan kiriku terus menggoyangkan pensil 2B. Kakiku terus menghentak-hentak lantai. Telingaku hanya mendengar detakan jarum jam yang berjalan beiringan. Jarum panjang di angka sebelas. Terus berjalan. Sedikit lagi mencapai angka dua belas tepat. Aku terus menghitung dalam hati. Satuuuu.... duaaaa.... tiiii.... gaaaa.....
Kringgggg....
Jarum bertumpukan, pukul 12.00.Perhitunganku tepat. Otakku yang sedari tadi tidak terhubung dengan pelajaran membuat aku langsung bangkit berdiri, tegak, sigap, siap untuk pulang.Semua buku sudah aku masukkan ke dalam tas. Aku langsung menggendong tasku. Terasa ringan. Dari enam mata pelajaran yang ada pada hari ini, aku hanya membawa dua buku paket dan satu buku tulis campuran yang tak pernah ada isinya. Aku segera beranjak pergi meninggalkan kelas.
Mendadak tubuhku tertarik, ternyata Kai menarik ranselku. Aku memutar badanku, menatap Kai binggung.
“Lu ikut ke kafe kan?” jawabannya seakan-akan ia tahu arti pandanganku adalah untuk bertanya ‘apa?’.
“Ga.”
“Loh... Kenapa?” mimik wajahnya berubah kesal. Aku tahu aku sudah berjanji. Tetapi saat ‘ibu negara’ sudah melarang, aku bisa apa.
“Nyokapgw marah,” aku malas menjawab.
“Ngapainnyokap lu tiba-tiba marah?”
“Gapapa,” aku semakin malas menjelaskan. Aku langsung keluar kelas meninggalkan Kai sendiri. Tidak peduli dengan yang ada di pikirannya.
***
Perjalanan pulang, menyusuri jalan raya untuk tiba di suatu perumahan elit di kota ini. Nomer 23, itu rumahku. Hari ini dengan terpaksa aku harus berjalan kaki di bawah terik matahari pukul 12.00 yang tepat di atas kepalaku. Sopirku tidak bisa mengantar, handphonekukehabisan baterai, dompetku tertinggal di rumah, uang sakuku habis, mama menyuruhku pulang sebelum jam satu siang. Kesialanku sungguh bertubi-tubi.Hari itu aku benar-benar kesal. Belum pernah aku harus berjalan kaki sejauh satu kilometer apalagi di siang hari seperti ini. Kekesalanku semakin menjadi-jadi saat ada orangyang tiba-tiba membuang gelas plastik berlogo restoran makanan cepat saji yang masih berisi soda. Tepat sasaran, gelas plastik itu mengenai seragamku. Aku menoleh ke arah mobil itu dan memandangnya hingga mobil itu sudah melaju jauh dan tidak nampak lagi. Aku menggerutu dalam hati. Terus melanjutkan perjalanan ke rumah. Terus melangkahkan kaki di trotoar, sesekali duduk di kursi besi yang terletak di pinggir trotoar. Menikmati bisingnya suara kendaraan. Menilik keramaian kota. Bersandar, menghela napas, mencoba melupakan segala kesialanku hari ini.
Seorang anak kecil duduk disebelahku. Pakaiannya compang camping penuh noda. Wajahnya penuh peluh. Dipelipisnya jatuh keringat. Sesekali tangan mungilnya mengusap wajah. Peluh itu nampak jelas. Sedikit membuat rambutnya yang terikat tidak teratur dengan karet usang menjadi lepek. Kakinya berjalan tanpa alas. Napasnya tersenggal-senggal. Aku menatapnya lamat-lamat, beberapa detik hingga ia sadar bahwa sedang aku perhatikan.
“Eh...” kataku terkejut.
Ia balik menatapku serius, dari ujung rambut hingga ke sol sepatuku. Raut wajahnya berubah.
“Wah, kakak sekolah di SMA Merpati, ya! Bagaimana rasanya sekolah di sana, Kak? Pasti seru bisa sekolah di  sana. Aku dengar di sekolah itu ada kolam renang yang sangat luas, lapangan olahraga yang besar, taman bunga yang indah, laluuuu....” kalimatnya terhenti, sejenak ia berpikir.
“Galeri seni yang artistik?” aku mencoba mengerti apa yang sedang dia ingat.
“Ya, betul! Itu yang aku maksud. Hanya di sekolah-sekolah milik Yayasan Merpati yang memiliki galeri seni itu. Galeri yang menyimpan ribuan karya indah. Dulu sewaktu aku masih sekolah di SD Merpati karyaku pernah ada di sana,” raut wajahnya yang gembira dan antusias menjadi murung. Aku sendiri terkejut bahwa anak ini pernah sekolah di sana. Sekolah-sekolah milik Yayasan Merpati terkenal dengan biayanya yang selangit. Namun, memiliki fasilitas yang lengkap dan modern. Kalau dilihat dari pakaian anak ini, pandangan pertama kita adalah dia tidak sekolah. Lalu, bagaimana bisa dia bersekolah di sekolah di sekolah termahal di kota ini? Gumamku dalam hati.
“Dulu sewaktu orang tuaku masih hidup aku bersekolah di sana, SD Merpati. Aku punya banyak teman. Mereka selalu aku ajak bermain di rumahku. Rumahku dulu tak jauh dari sini, di Perumahan Indah.”
Perumahan Indah, itu perumahan elitdimana rumahku berada.
“Perumahan Indah? Hey, rumahku juga disana,” kataku yang semakin antusias dengan ceritanya.
“Wow, rumah berarti dulu aku tetanggaan dengan kakak! Dulu Ibu selalu bilang bahwa aku harus jadi anak rajin karena kita tidak seterusnya bisa jadi orang dengan ekonomi tinggi. Ibu selalu bilang bahwa tidak selamanya aku akan tinggal di rumah mewah itu. Ibu pernah bilang jangan sampai aku seperti anak tetangga. Dia pemalas dan selalu keluyuran. Padahal dahulunya dia pernah menjuarai lomba melukis, aku pernah melihat karyanya di galeri seni Merpati. Lalu, sekarang dia sudah tidak pernah meneruskan bakatnya, memegang kuas pun tak pernah. Sekarang ia lebih sering jalan-jalan dengan temannya, menghabiskan uang untuk berbelanja, bermain ponsel, semakin lama nilainya semakin turun, bakatnya semakin terpendam. Padahal ia memiliki potensi besar, aku saja iri dengan dia. Aku senang melukis, namun lukisanku tidak sebagus lukisan anak itu.Seandainya aku jadi anak itu, aku akan benar-benar mengembangkan bakatku, aku akan menghabiskan waktu-waktuku bersama kuas dan cat. Aku akan memenuhi kanvas dengan karyaku. Seluruh galeri seni akan penuh oleh kerja tanganku. Sayangnya aku bukan dia. Banyak orang ingin menjadi seperti dia. Namun, dia malah merusaknya.”
Tunggu, apakah maksud anak itu adalah aku? Aku dahulu pernah menjuarai lomba melukis hingga internasional. Karyaku terpampang besar di galeri seni Merpati. Seluruh Asia telah melihat karya sentuhan tangan anak sekolah dasar yang telah menyamai kemampuan seniman dewasa. Apakah benar itu aku? Aku sekarang telah meninggalkan kuas dan cat. Aku tidak pernah menyentuh mereka lagi. Aku sudah tidak pernah membuat kuas menari-nari elok di atas kanvas. Aku sudah tidak pernah membuat cat menghiasi kertas-kertas gambar. Aku sudah tidak pernah memenuhi ruanganku dengan lukisan.Apakah itu aku? Aku selalu menghabiskan waktu-waktuku untuk bermain ponsel. Padahal dahulu aku selalu memanfaatkan waktu istirahat untuk melukis. Aku selalu menggunakan malam-malamku untuk ke kafe dengan Kai, Ellen, Olla, Selvie, dan Jollyn. Aku selalu menggunakan hari liburku untuk belanja barang-barang mewah seperti yang sering digunakan teman-temanku. Aku telah meninggalkan semuanya. Keluarga, pendidikan, tata krama, moral, hobi, dan cita-cita, semenjak menjadi generasi milenial. Itu sebutan orang dunia untuk generasi ini. Semenjak jadi bagian dari generasi ini, hidupku hanya berisi kesenangan. Tidak memikirkan urusan pendidikan. Aku benar-benar meninggalkannya jauh di belakang. Kata-kata anak kecil ini benar, yang ia maksud pasti aku, kata-katanya membuat aku sadar bagaimana aku yang sekarang.
“Siapa anak itu?” aku bertanya untuk memastikan.
“Dia tinggal di rumah nomer 23. Aku tidak tahu namanya.”
Dan benar itu aku. Sungguh itu aku.
***
Kata-katanya terus menancap tajam di benakku. Semakin aku mencoba melupakan, aku semakin mengingat detail perkataannya. Semenjak hari itu, semua orang memandangku aneh. Aku mencoba berubah menjadi aku yang dulu, aku delapan tahun yang lalu. Waktu istirahatku aku gunakan untuk mencari inspirasi gambar dan membuat sketsa. Setelah sekolah usai aku sudah tidak pernah lagi keluar, aku hanya mengunjungi satu tempatdimana puluhan karyaku terpampang, ratusanideku tertuang, ribuan inspirasiku terbentang, membuat jutaan orang tercengang. Impianku yang dulu tertinggal disana, aku akan menjemputnya segera, sekarang. Galeri seni. Bagiku tempat itu lebih dari sekedar galeri dengan ribuan karya calon seniman, galeri seni adalah tempat dimana aku memulai mimpiku.
Kamarku yang dahulu berantakan oleh baju-baju baru dan tas belanja, kini telah terpenuhi oleh alat melukis. Aku sudah memiliki ide.Aku akan menuangkan ideku pada kanvas. Aku yakin dalam tiga hari, lukisan tersebut akan jadi.
***
Tiga hari kemudian.
Setelah bel berbunyi, aku langsung keluar kelas. Aku menghindari Kai yang setiap hari terus mengajakku pergi.Namun, aku dicegah oleh Kai, Olive, dan Ellen di depan pintu kelas saat semuanya sudah keluar.
“Lu kok udahga pernah deket sama kita?” Kai menatapku sinis nadanya terdengar kesal.
“Aku udahga bisa hangoutsama kalian.”
“Kenapa? Lu dimarahin?” tanya Ellen penasaran.
“Ga juga. Aku cuma mau fokus sama hobi aku aja.”
“Apaan? Melukis? Astaga... masa lu tega ninggalin kita demi itu.”
“Aku pulang dulu,” aku sudah kesal. Tidak ingin menjawab lagi. Aku meninggalkan mereka bersama rasa penasaran mereka. Wajah mereka merah padam. Ingin marah, namun mereka tidak bisa menahanku untuk pergi. Apapunbujuk rayu yang mereka lontarkan, aku sudah bulat pada keputusanku. Aku gunakan masa-masa ini untuk benar-benar menghasilkan sesuatu yang berguna dan membanggakan.
***
Pukul 17.34, sebelum matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Aku tidak sendiri di sini. Aku ditemani merahnya langit. Swastamita, keindahan yang tercipta sebagai bukti kuasa Yang Maha Kuasa.Goresan merah di langit yang terlukis melalui kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi. Karya yang tak dapat disangkal keindahannya.
Duduk di bangku besi yang terletak di pinggir jalan. Menunggu kehadiran seseorang sembari menatap keelokan langit, melihat ramainya jalan raya, kendaraan yang terus membunyikan klakson seperti berlomba-lomba tiba di rumah terlebih dahulu. Pukul 17.35 di mana semuaoraang kantoran menyudahi pekerjaan dan kembali pada pelukan hangat keluarga. Hal yang memang seharusnya mereka untuk menghilangkan rasa lelah. Tidak seperti aku, sejak aku sering diajak jalan-jalan oleh teman-temanku, aku tidak punya waktu bersama keluarga. Aku keluyuran dari pulang sekolah hingga malam. Tiba di rumah, aku sudah lelah dan langsung membaringkan tubuhku di atas kasur. Aku telah kehilangan banyak kesempatan untuk membuat momen tak terlupakan bersama keluarga.
Pukul 17.38, setelah menunggu beberapa menit, orang yang kutunggu telah tiba. Orang yang membuat aku sadar siapa aku yang dahulu dan bagaimana aku yang sekarang. Dia adalah anak kecil yang waktu itu duduk di sebelahku. Aku mengajaknya bertemu hari ini, pukul 17.40, dan ia datang dua menit lebih cepat. Tanganku yang sedari tadi menggenggam lukisan yang telah kubuat selama tiga hari. Lukisan di atas kanvas berukuran 40 cm × 50 cm. Aku menyodorkan lukisan itu kepada anak kecil itu.
Ia menatapku antara takjub dan binggung, “Woww... ini lukisan yang indah. Lebih indah dari lukisan anak yang waktu itu aku ceritakan ke kakak. Kenapa kakak tidak berikan pada galeri seni? Lukisan ini pasti ditampilkan paling depan. Aku tidak menyangka kakak punya bakat melukis.”
Dia belum tahu bahwa anak yang waktu itu ia ceritakan adalah aku. Tetapi aku senang, aku telah berhasil melampaui aku yang dahulu.
“Terima kasih. Ini buat kamu,” kataku sambil tersenyum menatap wajahnya.
Ia mengerutkan alisnya dan berkata, “Jangan, Kak. Ini bagus. Lebih baik berikan pada galeri seni. Kakak pasti akan terkenal.”
“Enggak, ini buat kamu. Aku bisa membuat lagi,” aku membujuknya agar ia mau menerima lukisan itu. Mataku terus menatap lukisanku. Aku tahu ia menginginkannya, namun ia malu-malu.
“Tapi kakkk...”
“Gapapa, ambil aja. Nanti aku akan buat lagi dan akan kukirimkan ke galeri seni.”
“Kakak janji?” ia memberikan jari kelingkingnya.
Aku membalasnya, tanda aku berjanji.
“Iya, kakak janji.”
Akhirnya ia menerima lukisanku. Wajahnya menampilkan kegembiraan, lebih indah dari langit yang sedari tadi kupandang.
Pukul 17.49, ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati senja, melihat matahari terbenam di ufuk barat. Keindahan yang selama ini hanya aku lihat sekilas tanpa pernah peduli. Pukul 17.49, biasanya aku selalu berada di dalam gedung entah itu mall, karaoke, atau restoran. Aku telah menyia-nyiakan banyak senja. Dan hari ini aku telah memandang kebahagiaan disertai keindahan. Aku tidak menyesal tiga hariku hanya berada dalam kamar setelah pulang sekolah. Aku senang melihat karyaku tidak hanya membuat diriku yang puas, namun juga orang lain.
Hari ini aku telah mengerti benar apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku telah mendapatkannya. Tidak semua kebahagiaan harus didapatkan dengan mengikuti perkembangan zaman hingga sekalipun itu menjerumuskanmu dalam keburukan kamu harus tetap mengikutinya. Kebahagiaan dapat kamu dapatkan melalui hal yang sederhana. Menikmati apa yang kamu sukai dan membagikan kebahagiaan itu pada orang lain. Ini aku yang sekarang, aku telah berubah. Tetap menjadi generasi milenial, namun dengan keberadaan yang memberi dampak positif.Ini aku, seorang generasi milenial yang membuktikan bahwa generasi ini bukan generasi biasa. Generasi yang bisa memberi perubahan. Generasi yang tidak bisa terus dipandang buruk. Generasi milenial bukan generasi biasa.


Menjadi bagian dari kelompok yang hidup di zaman milenial bukan berarti harus menjadi bagian dari keburukannya. Jadilah seperti yang seharusnya seorang penerus bangsa lakukan. Berikan dampak positif. Sebarkan kebaikan. Jadi beda bukan berarti ketinggalan zaman.



TAMAT

Semakin Memantapkan Iman

Ujian KDK Serentak di Kota Mojokerto serentak pada (19/10) di Kota Mojokerto  kegiatan diselenggarakan di SMP TNH. Untuk siswa yang beragama Kristen, Budha dan Hindu se-Kota Mojokerto semua di TNH, sedangkan peserta Katolik mengerjakan di SMP K St. Yusup
   suasana ketika ujian




                                          Sebelum ujian

Kamis, 30 Maret 2017

TERJERAT

Abu-abu
Kini dalam ingatan
Terpancar dalam diam
Merunduk terdiam

Puing-puing ingatan
Kembali tercipta
Melupakannya hanya sia-sia
Justru mengingat detail dirinya

Kembali terpaku
Kembali pada masa lalu
Kembali pada misteri
Kembali tuk kekangan

Waktu jadi kendala
Ingin memutarnya
Ingin melupakannya
Hanya keajaiban yang bisa mengulangnya

Rona dirimu
Semakin tercipta semakin kuat
Untuk mengiang-ngiang
Di dalam pikiranku

Sekuat apapun diriku
Seberusaha apapun aku
Kini tak kuasa
Tuk benar-benar melupakanmu

Detik Kehilangan

Kenangan
Masa lalu
Kini semua hanya cerita
Tuk diingat

Semua tentang dirimu
Kini hanya bayangan kelam
Yang terombang-ambing
Dalam ingatanku

Setiap cerita
Setiap detik kebersamaan kita
Ingin kujadikan memori indah
Dalam kehidupan kita

Namun semua sia-sia
Sekarang bukan kita
Tapi dirimu dan diriku
Yang tak mungkin bisa kembali

Asa

Kegembiraan keceriaan
Seakan bertahan dalam senyuman
Tak ada lagi kata "HAMPA" dalam kehidupan

Semua seketika terlukis
Saat ia benar-benar datang
Menghampiri diri ini
Untuk kembali pada masa lalu

Berharap waktu menghentikan
Berharap bisa mengingatnya lebih jelas
Berharap dan terus berharap
Sampai ia kembali dan menjadi milikku selamanya

Tak akan pernah salah
Dirinya benar-benar kembali untukku

Tidak akan pernah melepaskan
Sesuatu yang kudapatkan dengan amat sulit
Walaupun itu hanya sosok
Yang pernah membuat ku membara

Andai

Bukan mereka yang kubutuhkan
Bukan mereka yang kuharapkan

Kebahagiaan dan kesengsaraan
Yang terbayang dengan lekat
Selalu ada harap
Yanh terpancar dalam jiwa

Andai ia tau
Andai dirinya sadar
Aku adalah sosok rapuh
Aku adalah seorang gadis tertutup

Menutupnya amatlah sukar
Mengubur kenangan itu sangat menyiksa
Berjalan sendiri
Meratap apa yang menjadi keharusan

Mereka mengenalku
Mereka temanku
Dan mereka hanya sesosok insan
Yang tak mengerti apa-apa tentang diriku

Rabu, 01 Maret 2017

SEMINAR MOTIVASI SMP TNH

Pada hari Selasa, 21 Februari 2017, SMP TNH mengadakan seminar motivasi bagi siswa-siswi kelas 9, yang akan melaksanakan ujian, baik USBN, UNBK, US, dan lain-lain. Kak Oktastika, seorang motivator Nasional dari penerbit buku Erlangga, turut diundang untuk menjadi pembicara dalam acara kali ini.

Guru dan Yayasan SMP SMA TNH berharap bahwa lewat program ini, murid-murid akan lebih serius dalam mempersiapkan ujian-ujian yang akan datang.

Dalam program ini, Kak Okta menyampaikan 7 tips untuk dapat menjadi siswa sukses.

1. Menentukan cita-cita
Yang pertama kita harus menentukan tujuan kita, supaya kita tahu ke mana kita harus melangkah. Dalam menggapai cita-cita itu, kita harus mengubah pola pikir kita yang itu-itu saja. Kita perlu berkreasi menciptakan cara-cara baru yang membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita.

2. Mendekatkan diri pada Tuhan
Tentunya kita harus menyerahkan segala sesuatu ke dalam doa dan bimbingan Tuhan YME. Jangan sampai kita lupa berdoa dan beribadah.

3. Menghormati orang tua dan guru
Semua orang punya sifat baik dan buruk dalam dirinya. Begitu juga dengan orang tua dan guru kita. Tak peduli bagaimana kondisi orang tua kita, tetaplah menghormati mereka, karena tanpa beliau, kita takkan ada di dunia ini. Guru-guru kita juga telah mengajar kita dengan sabar. Temukanlah sifat-sifat baik mereka. Contohlah. Jangan mencontoh sifat yang tidak baik.

4. Memilih teman yang mendukung
Carilah teman yang membuat kita semangat belajar. Bila teman-teman kita semangat untuk belajar, tentu akan memotivasi kita untuk belajar juga.

5. Tekun belajar
Pelajar memiliki kewajiban untuk belajar, bukankah begitu? Namun yang disampaikan Kak Okta lain. Beliau mengatakan bahwa kita harus menganggap belajar sebagai sebuah kebutuhan. Bukan kewajiban.
Anggaplah bahwa belajar merupakan cara kita mengumpulkan ilmu menuju cita-cita. Jika belajar menjadi kebutuhan kita, tentu kita tidak akan asal-asalan dalam melakukannya.
Beliau membagikan suatu cara ajaib untuk mendapat nilai yang baik. 
"Tidak perlu membaca kalau tidk suka. Hanya latihan berulang-ulang saja" kata beliau.

6. Mengenali channel pikiran
Sebenarnya yang dimaksud channel pikiran di sini ialah gaya belajar kita.
Ada 3 macam tipe belajar yang dibagikan Kak Okta :

TIPE 1 : VISUAL
Orang yang memiliki tipe belajar visual, adalah orang yang belajar dengan melihat.
Orang dengan tipe belajar macam ini biasanya memakai baju yang yang rapi, mulai dari masuk sekolah sampai pulang, suka duduk di depan, Sering mengatakan "kelihatannya"

TIPE 2 : AUDIOTORI
Orang yang memiliki tipe belajar audiotori, adalah orang yang belajar lewat mendengarkan.
Orang dengan tipe belajar macam ini biasanya suka memakai pakaian yang mencolok, perpaduan warna yang bagus, jika bicara mendayu-dayu, sering mengatakan "kedengarannya"

TIPE 3 : KINESTETIS
Orang yang memiliki tipe belajar kinestetis, adalah ornag yang belajar dengan bergerak.
Mereka suka bergerak, tidak bisa diam. Mereka akan memilih pakaian yang nyaman daripada bagus. Mereka suka mencatat amuntidak membaca ulang catatan mereka, dan suka duduk di belakang.

7. Memperbudak teknologi
Memang sekarang ini teknologi berkembang pesat. Informasi dari manapun dapat kita akses lewat ponsel di tangan kita. Namun jangan sampai teknologi yang semakin hebat ini, menguasai kita. Kita harus bisa mengendalikan penggunaannya. Jangan sampai kita lupa belajar karena bermain dengan ponsel kita.


The Adventure Of The Dragonia Episode 7

All of the food is Ryan's favorite. Pholexa walk into the dining room and welcome Ryan "Welcome Ryan, I'm sorry about earlier in the dungeon" Ryan reply "It'sokay, it wasn't your fault, it was kinda my fault not telling you that i'm Welsina's old friend". Welsina walk in to the dining room and says "Are we gonna eat or just standing here??" Ryan reply "Of course, besides all of this food is my favorite" Pholexa says "Oh i'm not gonna eat, because remember we already eat diner with the princes" Welsina reply "Oh right is that mean I can't eat again??" Pholexa reply "Well no, you can eat but you have to do more training to remove your weight" Welsina reply "Fine, I guest I have to do more training, well that's out of the way let's eat!!" Ryan reply "Well I agree 100%". Pholexa left
he the room as they start to eat, Pholexa is worried about the next Dragon attack. So she created a magic barrier to keep the castle and town safe. After a while Ryan and Welsina is done eating, Ryan says "Well it's time to leave, I can't stay" Welsina reply sadly "But why, wait I have an idea, you can stay in the castle for a bit, there's a guest room, how about that??" Ryan thinks for a few minute and reply "Okay if that fine, but will the Queen be okay if I stay??" Welsina reply "Well aren't you silly, the Queen was here before we eat together" Ryan reply "Wait so the Queen WAS here?!?" Welsina reply "Yup" Ryan reply "Well I guest I need to apologize, and ask if I can stay in the guest room". Pholexa finally finish putting a magic barrier around the whole town. Pholexa then walk out of her room and went to the throne room and sit on her throne thinking. While Pholexa was thinking, Ryan walk into the room and shocked that she was the Queen............

TO BE CONTINUED





Kamis, 26 Januari 2017

Golongan Darah

          Orang-orang pasti memiliki golongan darah yang berbeda-beda seperti golongan darah A, B, AB, dan O. Orang-orang juga dapat dianalisis golongan darahnya melalui melihat sifatnya. Kali ini, kita akan membahas mengenai perbedaan sifat dari masing-masing golongan darah.
          Golongan darah A cenderung pekerja keras dan ramah. Golongan darah B, rasa ingin tahunya besar dan mempunyai bakat memikirkan sesuatu yang berbeda dengan yang dipunya orang lain. Golongan darah O, ceria dan berani, sering memimpin teman temannya, dan cukup keras kepala. Golongan darh AB, suka menganalisis dan bertanya, berusaha bersikap adil, akan tetapi mempunyai sisi yang misterius.
          Dalam fashion, golongan darah A lebih suka memilih gaya chick karena mereka tidak suka pakaian yang terlalu ramai. Golongan darah B, berani memadukan desain dan warna karena bagi mereka kenyamanan adalah yang terpenting. Golongan darah O, berselera unik sehingga suka mix and match pakaian. Golongan darah AB, lebih suka membedakan pakaian sesuai waktu dan tempat juga mampu menciptakan berbagai macam gaya yang menarik.
          Golongan darah A juga selalu khawatir dan peduli. Golongan darah B, tidak suka mempermalukan orang. Golongan darah O, menghibur dan memberi kekuatan. Golongan AB, memahami perasaan orang lain. Ini mungkin sedikit dari beberapa sifat setiap golongan darah. Saya juga sedikit mengutip dari ensiklopedia golongan darah.

ElsNite Sword (Bagian 3)

Entah sudah berapa lama mereka berjalan, melewati berbagai rintangan yang menghalangi mereka. Sampai mereka berada di tengah Padang Pasir Despania. Mereka semua kelelahan. Entah berapa lama lagi mereka bisa bertahan.

"Aku capek" gumam Mercha. "Ayolah Merc, jangan menyerah. Sebentar lagi kita akan sampai" kata Gwen. "Berapa lama lagi?" tanya Serba. "Seharusnya tinggal 2 jam dari tempat ini!" Karyn berseru. "Xenya, tidak bisakah kita istirahat sebentar? kita sudah berkuda terlalu lama. Ototku terasa kaku" pinta Fallon. Xenya tidak tega melihat teman-temannya, walau sebenarnya dia ingin melanjutkan perjalanan. "Baiklah. Kita akan mencari Oase dekat sini" katanya. Setelah sekitar sepuluh menit berjalan, mereka menemukan Oase.
"Aahh, enaknya" kata Erberk sambil berbaring. Mereka semua pun melakukan hal yang sama. Otot mereka kaku dan hampir tidak bisa digerakkan. Kuda-kuda mereka biarkan untuk minum.

Setelah beberapa saat istirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan. "Kita harus bergegas. kita sudah kehilangan cukup banyak waktu" kata Xenya. Jadi mereka memacu kuda mereka lebih cepat. Mereka tiba di Kota Eldenweise saat langit berwarna kemerahan. "Kita akan pergi ke Grimsbrough dan mencari penginapan di sana" jelas Xenya. Teman-temannya mengangguk. Mereka harus berkuda sekitar setengah jam untuk mencapai Grimsbrough. "Kalian istirahatlah yang cukup. Kita punya hal besar untuk dilakukan besok" kata Xenya, yang diikuti oleh seruan senang teman-temannya.

"Gwen" panggil Xenya. Gwen berbalik dan menatap teman sekaligus komandonya itu. "Ya?" tanyanya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu?" "tentu". Mereka pun berjalan di kota. "Aku khawatir tentang Aidan" mulainya. "beberapa hari yang lalu, saat dia berkata dia tidak ikut, aku merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikannya" "Maksudmu dia berpura-pura sakit?" tanya Gwen. "Ya, mungkin. Tapi aku yakin ada alasan lain mengapa dia tidak ikut. bukan sekedar sakit" lanjut Xenya. "Apa yang mau kau lakukan Xenya?" tanya Gwen khawatir. "Aku tidak yakin. Tapi kalau aku butuh bantuanmu, maukah kau membantuku?" tanyanya. "Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku akan membantumu!" katanya. Gwen merasa aneh ditanya seperti itu.

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan" ujarnya. Sesampainya mereka di pintu kamar masing-masing, "Oh, Gwen.. tolong jangan beritahukan hal ini pada siapapun" ujar Xenya. Gwen tidak mengerti, tapi ia mengangguk. "Baiklah, selamat malam" kata senya sambil menutup pintu. Begitu pula Gwen.

Namun pikirannya berkecamuk. Apa yang disembunyikan Xenya? Kenapa dia bertanya begitu? Ia sama sekali tidak mengerti. Ia akhirnya terlelap.

Bersambung

Rabu, 25 Januari 2017

QUOTES FOR DAYS

1.Do or do not there is no try.Because you only have 1 chance in the world

2.Aku tidak bicara soal jalan pintas, tapi aku bicara soal jalan melewatinya

3.Think before you act, think before you leap.
4. stupid, useless, empty brain is what we must dodge

5 Jangan diam saja. Buat mereka tahu keberadaanmu!

6. if you just believe, you can do anything

7  Jangan pertanyakan apa yang kau dapat dari orang lain, tetapi pertanyakan apa yang sudah kamu lakukan
    untuk orang lain



HUJAN

Hujan,
Yang selalu membuat rindu menjelajah
Untuk mengembara ke negeri yang jauh itu
Mendengar ceritanya tentang salju yang putih
Mendengar ceritanya tentang daun yang gugur
Sambil menatap pijar biru yang menyimpan keteparan

Hujan,
Yang mengundang datangnya kerinduan
Bisikkan padanya tentang bukit-bukit sepi
Ya, bukit-bukit sepi yang kian menjalar
Ke seluruh tubuhku
Sejak keberangkatannya 
 

  

Kamis, 19 Januari 2017

ElsNite Sword (bagian 2)

Keesokan paginya, Gwen sudah siap ketika ia mendengar ketukan di pintu. Ia mengambil pedang dan busurnya, kemudian membukakan pintu bagi kedua temannya. "Pagi Karyn, Serba" saapanya. "Wah, kelihatannya mood-mu sudah membaik ya?" goda Serba. "Lebih baik daripada kemarin, kurasa. Tapi kalau kau mengacau, aku akan membunuhmu" jawabnya sambil tersenyum. Serba terbahak. "Baiklah, Ayo berangkat!" ujar Karyn bersemangat.

Saat mereka sampai di markas, semua teman mereka telah datang kecuali Aidan. "Dia bilang padaku bahwa dia sakit" kata Xenya. "Well, berarti kita sudah lengkap" gumam Resvant. "Kita harus pergi ke Timur. Dua hari perjalanan dari sini" kata Lefya. "Baiklah, ayo berangkat!" ujar Gwen. Demikianlah Guild beranggotakan sembilan orang itu berangkat.

Malam tiba. Untungnya mereka telah menemukan gua untuk bermalam. "Perjalanan yang melelahkan" gumam Fallon. "Kita baru mencapai seperempat perjalanan, Fallon" kata Erberk. "Ya ya, kalau kau tak suka, kembali saja" sahut Mercha ikut-ikutan. Fallon mencibir. "Sudah, untuk malam ini kalian istirahatlah. Gwen dan aku akan berjaga" kata Xenya. Para anggota guild mengangguk dan mulai tertidur. Smentara itu, Gwen dan Xenya berjaga di luar.

"Apa kau benar-benar berpikir bahwa pedang itu ada, Xenya?" tanya Gwen memecah kesunyian. "Sebenarnya, aku tak yakin" ujarnya. "Tapi satu-satunya cara untuk mengetahuinya, adalah dengan mengeceknya, kan?" ujarnya lagi. Gwen mengangguk. Ia sudah tahu itu. Ia sendiri tidak benar-benar percaya kalau pedang itu ada. Sepengetahuannya, Pedang ElsNite adalah pedang yang memiliki kemampuan untuk membunuh orang dengan sekali tebas. Tentu saja tidak pernah ada orang yang menemukannya. Setelah bertahun-tahun tidak ada yang menemukannya, orang-orang berhenti mencari dan menganggap cerita itu hanyalah mitos. Sampai sekarang.

"Apa kau percaya, Gwen?" tanya Xenya tiba-tiba. "Kurasa aku tidak perlu menjawabnya" ujar Gwen. "Tapi kalau kau memang ingin jawaban, maka jawabannya adalah tidak" tambahnya. "Sudah kuduga" gumamnya sambil tersenyum. "Tapi kalau seandainya pedang itu benar-benar ada, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi. "Xenya! Jangan katakan padaku kau percaya pada mitos itu" kata Gwen dengan nada tak pecaya. "Aku bilang seandainya. Aku hanya ingin tahu" balasnya. Gwen menghela napas. "Jika pedang itu benar-benar ada, aku tak yakin apa yang akan kulakukan" jawab Gwen pada akhirnya. "Kupikir kau akan menjawab dengan hal seperti, 'aku akan gunakan untuk menegakkan keadilan' atau semacamnya" Xenya bergumam. "Tentu. Tapi hal yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang lain, kan? Aku harus bisa melihat dari semua sudut pandang sebelum bisa mengatakan hal besar seperti itu" jawabnya. Gwen tidak tahu kenapa Xenya tersenyum setelah mendengar jawabannya. Ia yakin bahwa Xenya memiliki pikiran yang sama dengannya.

"Baiklah. Kau istirahatlah. Aku tahu satu jam tidak akan cukup, tapi istirahat itu penting" kata Xenya. 'Kenapa dia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan?' pikir Gwen. Namun ia tak menyuarakannya. "Bagaimana denganmu, kau tidak akan istirahat?" "Aku akan berjaga di sini. Tenanglah. Aku akan baik-baik saja" kata Xenya. Gwen mengerutkan alis tanda tak setuju, tapi ia menurut. Ia masuk, untuk istirahat.

Satu jam kemudian, ia terbangun. Tidur satu jam memang tidak cukup. Tapi Gwen harus bersyukur. Xenya malah tidak tidur sepanjang malam. Gwen menghela napas. Ia segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah semuanya siap, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke arah timur.

BERSAMBUNG

PENTAS SENI MUSIK AKUSTIK DI PAMERAN PENDIDIKAN TNH 2017


Mengecek Lidah

Lidah ga asing kan ditelinga kita dan kita semua pasti punya lidah bukan?? Hmm tapi ngerti ga sih ciri-ciri lidah ada bercak putih gimana, yang berwarna merah kenapa, nah bakal dijelasin nih, tapi kita ga bakal jelasin itu doang, dan bakal njelasin yang bermacam-macam Yukk simak!!
Yang pertama Lidah yang berwarna merah. Lidah yang berwarna merah menandakan bahwa suhu tubuh kita melonjak nah maka papila kita akan membengkak sehingga terlihat berwarna merah. Ini mungkin terjadi karena demam berdarah, kekurangan folat, kekurangan vitamin B3 dan B12 loh, untuk itu dianjurkan untuk mencukupi nutrisi harian oleh tubuh.
Kedua, Lidah berwarna ke ungu-ungu an, mengonsumsi makan atau minuman dingin dapat menyebabkan lidah berwarna ungu, tapi juga dapat adanya penyakit bronkitis kronis juga kadar korestrol yang tinggi, jika warna ungu merata pada lidah mungkin perubahan dari penyakit liver. Maka dari itu disarankan untuk banyak makan bawang putih dan jahe.
Yang ketiga lidah berwarna kuning, itu mungkin adanya pembentukan ragi atau infeksi bakteri. Tapi secara umum warna kuning pada lidah karna indikasi panas tubuh yang berlebih. Penyebab menjadi kuning biasanya karna nikotin, makanan pedas, atau dampak stress yang berlarut-larut.
Keempat nih, lidah berwarna biru warna biru pada lidah timbul akibat darah yang dingin atau aliran sangat lambat. ketika warna biru bercampur ungu, artinya kondisi buruk ini makin parah.
Kelima Lidah kehitam-hitaman. waspada ya bila lidah berubah menjadi warna hitam, Perubahan ini bisa dipicu oleh gejala diabetes, penggunaan antibiotik, atau juga kesehatan mulut yang buruk. Tapi kemungkinan yang paling ringan adalah bakteri yang terjebak dilidah, sehingga menimbulkan bercak hitam.
Keenam dan yang terakhir lohh, Bercak putih pada lidah penyebabnya antara lain, sariawan, dehidrasi, infeksi jamur oral, atau leukoplakia (sel sel permukaan lidah tumbuh secara berlebih), mungkin juga h=gejala tifus, flu, gangguan pada saluran cerna, dan anemia.  Untuk mengatasinya perlu banyak-banyak minum air dan jaga kesehatan mulut kawan. Ok sekian deh informasinya, moga bermanfaat. :)

UNBK (UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER) TAHUN 2017

   

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaanya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini telah berjalan. Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan ke server lokal, kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal secara offline.

   Pada tahun 2017 ini, SMP dan SMA TNH untuk pertama kalinya juga akan mengikuti UNBK. Untuk keperluan itu, jumlah komputer yang harus disediakan adalah 1/3 dari jumlah peserta. Karena ruang komputer yang dimiliki sekarang tidak cukup untuk bayak komputer yang diperlukan, maka pelaksanaan UNBK akan diadakan di aula SMA TNH. Jadi untuk seterusnya ruang komputer akan menempati ruangan yang dulunya merupakan aula. Sedangkan untuk aula sudah dibangun gedung baru dan akan berada di lantai 2.

Pelaksanaan UNBK akan dilaksanakan dalam waktu yang berbeda untuk SMA dan SMP. Karena jumlah komputer hanya sekitar 30 persen dari jumlah siswa, dalam sehari UNBK akan dilaksanakan dalam 3 sesi. Terdapat waktu pagi, siang, dan sore. UNBK juga terdapat 2 gelombang. Untuk jenjang SMP, gelombang pertama UNBK akan dilaksanakan tanggal 2,3,4, dan 15 Mei 2017. Sementara untuk gelombang kedua, UNBK dilaksanakan pada tanggal 8, 9, 10, dan 16 Mei 2017. 

Untuk kabar selanjutnya, kita ikuti saja prosesnya.