Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

ElsNite Sword (Bagian 3)

Entah sudah berapa lama mereka berjalan, melewati berbagai rintangan yang menghalangi mereka. Sampai mereka berada di tengah Padang Pasir Despania. Mereka semua kelelahan. Entah berapa lama lagi mereka bisa bertahan.

"Aku capek" gumam Mercha. "Ayolah Merc, jangan menyerah. Sebentar lagi kita akan sampai" kata Gwen. "Berapa lama lagi?" tanya Serba. "Seharusnya tinggal 2 jam dari tempat ini!" Karyn berseru. "Xenya, tidak bisakah kita istirahat sebentar? kita sudah berkuda terlalu lama. Ototku terasa kaku" pinta Fallon. Xenya tidak tega melihat teman-temannya, walau sebenarnya dia ingin melanjutkan perjalanan. "Baiklah. Kita akan mencari Oase dekat sini" katanya. Setelah sekitar sepuluh menit berjalan, mereka menemukan Oase.
"Aahh, enaknya" kata Erberk sambil berbaring. Mereka semua pun melakukan hal yang sama. Otot mereka kaku dan hampir tidak bisa digerakkan. Kuda-kuda mereka biarkan untuk minum.

Setelah beberapa saat istirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan. "Kita harus bergegas. kita sudah kehilangan cukup banyak waktu" kata Xenya. Jadi mereka memacu kuda mereka lebih cepat. Mereka tiba di Kota Eldenweise saat langit berwarna kemerahan. "Kita akan pergi ke Grimsbrough dan mencari penginapan di sana" jelas Xenya. Teman-temannya mengangguk. Mereka harus berkuda sekitar setengah jam untuk mencapai Grimsbrough. "Kalian istirahatlah yang cukup. Kita punya hal besar untuk dilakukan besok" kata Xenya, yang diikuti oleh seruan senang teman-temannya.

"Gwen" panggil Xenya. Gwen berbalik dan menatap teman sekaligus komandonya itu. "Ya?" tanyanya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu?" "tentu". Mereka pun berjalan di kota. "Aku khawatir tentang Aidan" mulainya. "beberapa hari yang lalu, saat dia berkata dia tidak ikut, aku merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikannya" "Maksudmu dia berpura-pura sakit?" tanya Gwen. "Ya, mungkin. Tapi aku yakin ada alasan lain mengapa dia tidak ikut. bukan sekedar sakit" lanjut Xenya. "Apa yang mau kau lakukan Xenya?" tanya Gwen khawatir. "Aku tidak yakin. Tapi kalau aku butuh bantuanmu, maukah kau membantuku?" tanyanya. "Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku akan membantumu!" katanya. Gwen merasa aneh ditanya seperti itu.

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan" ujarnya. Sesampainya mereka di pintu kamar masing-masing, "Oh, Gwen.. tolong jangan beritahukan hal ini pada siapapun" ujar Xenya. Gwen tidak mengerti, tapi ia mengangguk. "Baiklah, selamat malam" kata senya sambil menutup pintu. Begitu pula Gwen.

Namun pikirannya berkecamuk. Apa yang disembunyikan Xenya? Kenapa dia bertanya begitu? Ia sama sekali tidak mengerti. Ia akhirnya terlelap.

Bersambung

Kamis, 19 Januari 2017

ElsNite Sword (bagian 2)

Keesokan paginya, Gwen sudah siap ketika ia mendengar ketukan di pintu. Ia mengambil pedang dan busurnya, kemudian membukakan pintu bagi kedua temannya. "Pagi Karyn, Serba" saapanya. "Wah, kelihatannya mood-mu sudah membaik ya?" goda Serba. "Lebih baik daripada kemarin, kurasa. Tapi kalau kau mengacau, aku akan membunuhmu" jawabnya sambil tersenyum. Serba terbahak. "Baiklah, Ayo berangkat!" ujar Karyn bersemangat.

Saat mereka sampai di markas, semua teman mereka telah datang kecuali Aidan. "Dia bilang padaku bahwa dia sakit" kata Xenya. "Well, berarti kita sudah lengkap" gumam Resvant. "Kita harus pergi ke Timur. Dua hari perjalanan dari sini" kata Lefya. "Baiklah, ayo berangkat!" ujar Gwen. Demikianlah Guild beranggotakan sembilan orang itu berangkat.

Malam tiba. Untungnya mereka telah menemukan gua untuk bermalam. "Perjalanan yang melelahkan" gumam Fallon. "Kita baru mencapai seperempat perjalanan, Fallon" kata Erberk. "Ya ya, kalau kau tak suka, kembali saja" sahut Mercha ikut-ikutan. Fallon mencibir. "Sudah, untuk malam ini kalian istirahatlah. Gwen dan aku akan berjaga" kata Xenya. Para anggota guild mengangguk dan mulai tertidur. Smentara itu, Gwen dan Xenya berjaga di luar.

"Apa kau benar-benar berpikir bahwa pedang itu ada, Xenya?" tanya Gwen memecah kesunyian. "Sebenarnya, aku tak yakin" ujarnya. "Tapi satu-satunya cara untuk mengetahuinya, adalah dengan mengeceknya, kan?" ujarnya lagi. Gwen mengangguk. Ia sudah tahu itu. Ia sendiri tidak benar-benar percaya kalau pedang itu ada. Sepengetahuannya, Pedang ElsNite adalah pedang yang memiliki kemampuan untuk membunuh orang dengan sekali tebas. Tentu saja tidak pernah ada orang yang menemukannya. Setelah bertahun-tahun tidak ada yang menemukannya, orang-orang berhenti mencari dan menganggap cerita itu hanyalah mitos. Sampai sekarang.

"Apa kau percaya, Gwen?" tanya Xenya tiba-tiba. "Kurasa aku tidak perlu menjawabnya" ujar Gwen. "Tapi kalau kau memang ingin jawaban, maka jawabannya adalah tidak" tambahnya. "Sudah kuduga" gumamnya sambil tersenyum. "Tapi kalau seandainya pedang itu benar-benar ada, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi. "Xenya! Jangan katakan padaku kau percaya pada mitos itu" kata Gwen dengan nada tak pecaya. "Aku bilang seandainya. Aku hanya ingin tahu" balasnya. Gwen menghela napas. "Jika pedang itu benar-benar ada, aku tak yakin apa yang akan kulakukan" jawab Gwen pada akhirnya. "Kupikir kau akan menjawab dengan hal seperti, 'aku akan gunakan untuk menegakkan keadilan' atau semacamnya" Xenya bergumam. "Tentu. Tapi hal yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang lain, kan? Aku harus bisa melihat dari semua sudut pandang sebelum bisa mengatakan hal besar seperti itu" jawabnya. Gwen tidak tahu kenapa Xenya tersenyum setelah mendengar jawabannya. Ia yakin bahwa Xenya memiliki pikiran yang sama dengannya.

"Baiklah. Kau istirahatlah. Aku tahu satu jam tidak akan cukup, tapi istirahat itu penting" kata Xenya. 'Kenapa dia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan?' pikir Gwen. Namun ia tak menyuarakannya. "Bagaimana denganmu, kau tidak akan istirahat?" "Aku akan berjaga di sini. Tenanglah. Aku akan baik-baik saja" kata Xenya. Gwen mengerutkan alis tanda tak setuju, tapi ia menurut. Ia masuk, untuk istirahat.

Satu jam kemudian, ia terbangun. Tidur satu jam memang tidak cukup. Tapi Gwen harus bersyukur. Xenya malah tidak tidur sepanjang malam. Gwen menghela napas. Ia segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah semuanya siap, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke arah timur.

BERSAMBUNG

Kamis, 12 Januari 2017

ElsNite Sword

Sinar matahari pagi menembus jendela di kamar Gwen, yang menyipitkan mata karena silau. Badannya terasa sakit sehabis perburuan kemarin. "Aah, seharusnya aku tidak ikut" erangnya. "Ini semua salah Serba" keluhnya lagi, walau ia tahu keluhannya tidak akan mengurangi rasa sakitnya. "Gwen, apa kau sudah bangun?" terdengar ketukan di pintu. Gwen mengerang lagi. Pagi ini rasanya ia tidak bersemangat. Dengan susah payah ia berjalan ke pintu dan membukanya. "Buka matamu, dasar pemalas!" seru Serba dengan senyum cerah. "Ya ampun, kau terlihat kacau" ujarnya lagi. "Memang kau pikir itu salah siapa?! Membuatku sebagai umpan Dumblebeast. Aku hampir diseruduk, tahu. Kau ingin aku mati ya?!" balas Gwen tak sabar. "Oke.. oke.. mandi dan bersiap-siaplah, Gwen. Kita harus berkumpul dengan guild, kau ingat kan?" ucap Karyn menengahi perdebatan mereka berdua. Guild mereka, The Virtue and Valor (disingkat VV), adalah guild terhebat di wilayah mereka. Meski hanya beranggotakan sepuluh orang, mereka telah berulang kali menang dalam perang. Gwen mengerang sekali lagi. Tentu dia ingat. Akan tetapi, tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan ke mana pun. "Baiklah. Akan kutemui kalian di luar 15 menit lagi" sahutnya. Ia tahu ia harus memaksakan diri. "Baiklah, sampai nanti Gwen!" kata Karyn. Serba hanya tersenyum dan mengikuti Karyn ke luar. Gwen menghembuskan napas.

15 menit kemudian Gwen sudah selesai mandi dan bersiap-siap. Ia segera pergi ke luar, namun tidak melihat kedua temannya di sana. "Mereka di mana, sih?" ujarnya kesal setelah lima menit berputar-putar mencari kedua temannya. Tiba-tiba, "Yo!" ada tangan menepuk bahunya. Otomatis, Gwen terlonjak kaget. Lalu menghela napas. "Kau mengejutkanku!" ucapnya kesal. "Maaf, maaf. Nih!" jawab Serba sambil menyodorkan sebungkus kentang bakar. Gwen mengambilnya seraya mulai berjalan bersama kedua temannya ke arah markas rahasia mereka. Setelah makanannya habis, ia baru mengucapkan "terima kasih" pada kedua temannya itu. "Telat banget!" sahut Serba, yang tidak diacuhkannya.

Setelah mereka mengucapkan kata sandi mereka, barulah pintu markas terbuka untuk mereka. "Hai" sapa Fallon, sambil tersenyum. "Perburuan kemarin benar-benar hebat!" seru Erberk. "Kau benar-benar hebat, Gwen! teknik apa itu?" Mercha ikut-ikutan. Ya, bisa dikatakan perburuan kemarin sukses karena Gwen. Ia menjadi umpan dan ia juga yang menghabisi seekor Dumblebeast. Namun Gwen sama sekali tidak senang.

Xenya, ketua Guild mereka akhirnya datang. "Kerja bagus untukmu Gwen" pujinya. "Namun kita punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan hari ini" katanya. "Beberapa hari lalu, aku mendengar kabar bahwa beberapa orang dari Timur, telah menemukan Pedang ElsNite" "Tapi pedang itu cuma mitos!" potong Aidan. "Ya, tapi kenyataan bahwa ada orang yang menemukan pedang itu membuktikan bahwa pedang itu ada" sahut Xenya. "Kita harus mengambilnya, sebelum pedang itu jatuh ke tangan orang yang salah" lanjut Xenya.
Mereka segera menusun strategi. "Baiklah kalau begitu, kita berangkat besok pagi" kata Xenya.

BERSAMBUNG

Bola Bekel dan Seekor Cicak Kecil

    Sore itu, Aurora sedang mengobrak-abrik kamarnya untuk mencari suatu benda yang tampaknya penting baginya. Mamanya yang melihat tingkah laku anaknya pun melontarkan beberapa pertanyaan tentang apa yang sebenarnya anaknya itu cari. Aurora yang tampak sibuk mencari pun hanya menjawab singkat setiap pertanyaan mamanya itu. Sekitar 1 jam mencari, akhirnya ia berhasil menemukan benda yang ia cari itu. Ia berhasil menemukan bola bekel miliknya yang sempat hilang beberapa bulan yang lalu. Bola bekel itu berukuran kecil dengan hiasan huruf "S" berwarna biru di bagian dalamnya. Bola itu ia dapatkan saat ia membeli sepatu olah raga di awal tahun ajaran baru yang lalu secara gratis. Namun, bola itu hilang ketika ia memantulkan bola itu di kamarnya. Ternyata bola itu tersangkut di bagian belakang lemari pakaian.

     Keesokan harinya, ia membawa bola bekel itu lengkap dengan biji bekelnya ke sekolah untuk mengusir kebosanan saat jam pelajaran sedang kosong. Sesampainya di sekolah, ia mengajak beberapa sahabatnya bermain bekel sembari menunggu jam masuk kelas. "Teng.. Teng.. Teng..", jam masuk kelas pun tiba. Ia pun bergegas memasukkan alat-alat bekelnya ke dalam tasnya. Namun, tidak sengaja bola bekelnya jatuh dan memantul entah kemana. Ia pun segera mencari bola itu karena ia tak ingin lagi kehilangan bola bekel itu. Dan ternyata hal yang ia takuti pun terjadi. Bola itu menghilang untuk yang kedua kalinya. Pak Guru pun memasuki kelas dan ia terpaksa menghentikan pencariannya.

     Bel yang menandakan pergantian pelajaran pun berbunyi. Semua murid bergegas untuk masuk ke lab. komputer untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Dengan perasaan yang agak was-was, Aurora pun pergi meninggalkan kelas. Waktu jam pelajaran komputer hampir selesai, Aurora pun mengajak salah satu sahabatnya untuk membantunya mencari bola bekel di kelas. Setelah meminta izin kepada Pak Guru, mereka berdua pun mulai melakukan aksi pencariannya. 10 menit pencarian tak membuahkan hasil apapun, padahal mereka berdua sudah mencari ke seluruh penjuru kelas hingga ke sudut-sudut sempit sekalipun. Akhirnya mereka berdua pun menyerah dan kembali ke kelas.

     Jam istirahat pun tiba, Aurora bertanya-tanya kepada murid-murid lainnya apakah mereka melihat bola bekel miliknya. Akhirnya pun ada seorang murid yang memberi tahukan bahwa Vallen lah yang mengambil bola bekel itu. Seketika itu pula, ia mencari Vallen. Saat bertemu dengan Vallen ia begitu marah karena Vallen mengambil bola itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Akhirnya Vallen meminta maaf dan segera mencarikan bola tersebut. Saat bola itu ditemukan Vallen berkata, "Aurora, sini tanganmu.". "Memangnya kenapa?", sembari memberikan tangannya. Memang Vallen mengembalikan bola itu, tapi kini bola itu terbelah menjadi 2 bagian. Tentunya Aurora makin marah dengan Vallen. Ia juga meminta Vallen untuk membelikan kembali bola itu. Entah Vallen akan menggantikannya dengan yang baru atau tidak yang jelas ini adalah kejadian sial pertama yang ia alami hari ini.

    Kejadian yang ia alami berikutnya juga termasuk kesialan yang ia alami untuk kedua kalinya. Saat sedang membaca buku di dekat jendela yang tertutup tirai, ada seekor cicak kecil yang hinggap di tirai tersebut. Kedua sahabat Aurora yang tak sengaja melihat keberadaan cicak itu, memberitahu Aurora dengan isyarat menunjuk ke arah tirai. Awalnya Aurora tak menghiraukannya, namun akhirnya ia melihat ke arah tirai. Sontak ia meloncat dari tempat duduknya karena terkejut. Untung saja cicak itu tidak jatuh ke kepala ataupun pundaknya. Mungkin kalau hal itu terjadi, ia akan berteriak histeris hingga membuat murid-murid lainnya ikut kaget dan bingung.

    

Kamis, 24 November 2016

PASIEN LOLOS

     Harry dan Jacob adalah 2 sahabat yang sangat akrab. Di sekolah pun mereka juga sangat terkenal. Pada suatu malam saat masing-masing orang tua mereka dalam perjalanan pulang dari Singapura, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Masing-masing kedua orang tua mereka pun dinyatakan hilang. Hal tersebut membuat Harry dan Jacob merasa begitu terpukul. Mereka tidak terima bila orang tua mereka dinyatakan hilang dalam kecelakaan tersebut. Bahkan mereka juga menganggap bahwa berita kecelakaan pesawat tersebut hanya sebuah isu belaka. Namun karena banyak pihak yang menyatakan pernyataan bahwa kecelakaan itu benar-benar terjadi, akhirnya mereka hanya tinggal bersama dengan satu pembantu mereka. Lagi pula mereka berdua adalah anak tunggal. Memiliki kerabat pun juga berada jauh di luar negeri. Karena kejadian itu pula, mereka diperkenankan untuk tidak memasuki sekolah selama seminggu.

     Setelah seminggu, mereka pun masuk ke sekolah dengan diantarkan oleh masing-masing pembantu mereka dengan sepeda motor. Sesampainya di sekolah, mereka sama sekali tidak konsentrasi selama pelajaran berlangsung. Mereka terus menerus dihantui pemikiran tentang kecelakaan tersebut. Saat jam istirahat pun mereka selalu terbayang-bayang orang tua mereka yang sedang berdiri di sudut-sudut kelas. Satu bulan berlalu dan mereka tetap tidak percaya dengan apa yang menimpa orang tua mereka. Pada akhirnya mereka mengalami insomnia, tidak mood makan, malas belajar, bahkan mereka berani melukai diri mereka sendiri dengan mengiris tangan dan kaki mereka. Karena banyak luka yang mereka buat, mereka pun selalu mengenakan jaket untuk menutupi luka-luka mereka, agar tidak dicurigai orang.

     Hingga pada suatu malam, Jacob mengajak pembantunya Bi Ijah untuk bertamu ke rumah Harry. Bi Ijah pun mengantarkannya dengan senang hati, karena sudah lama semenjak peristiwa itu Jacob tidak pernah bersosialisai lagi dengan orang-orang di sekitar. Setibanya di rumah Harry, Bi Marni dan Bi Ijah berbincang-bincang di ruang tamu. Sedangkan Harry dan Jacob mengutak-atik sesuatu di dapur. Kemudian tiba-tiba lampu rumah Harry padam dan saat itu pula rencana mereka dipraktekkan. Jacob membungkam mulut Bi Ijah dan Bi Marni dengan serbet yang telah di beri obat bius. Sementara Harry, ia mengikat Bi Ijah dan Bi Marni yang telah pingsan. Beberapa saat kemudian, Bi Ijah dan Bi Marni pun bangun dan saat itu pula Harry dan Jacob melaksanakan rencana mereka berikutnya.

     Harry memotong tubuh Bi Marni dan Bi Ijah dengan pisau daging menjadi beberapa bagian. Sementara itu Jacob bertugas untuk memasak daging tersebut menjadi semur dan steak. Mereka memberikan berbagai macam bumbu dan setelah masakan tersebut jadi, mereka memakannya dan menyisakan beberapa porsi untuk dijadikan makanan catering teman-teman mereka di sekolah. Keesokan harinya saat jam istirahat makan siang, mereka berdua membagikan makanan yang sudah mereka buat malam itu. Menurut teman-teman mereka rasa daging yang mereka masak itu sangat enak dan bumbunya juga sangat meresap.

     Namun, pada saat itu ada salah satu teman mereka yang merasakan keanehan dalam daging yang ada di makanan tersebut. Karena orang tuanya adalah seorang dokter, ia pun menyisakan sepotong daging untuk di periksa. Setelah diperiksa ternyata daging itu adalah daging manusia. Kemudian keluarga anak tersebut pun melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib. Setelah itu Harry dan Jacob pun ditangkap polisi dan diselidiki. Kejadian ini pun sampai terdengar pihak wartawan dan memunculkan tanda tanya apakah itu sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh anak di bawah umur.

     Saat polisi di wawancarai pun, ternyata kedua anak tersebut adalah 2 pasien rumah sakit jiwa yang lolos dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah tunawisma yang tampaknya disiksa oleh orang tua mereka hingga kejiwaan mereka terganggu. Mereka juga sebenarnya memiliki orang tua, namun orang tua mereka meninggal beberapa tahun yang lalu. Kabarnya, mereka memasuki dua rumah warga di sebuah perumahan dan membunuh seluruh penghuni  rumah tersebut dan memasak daging mereka. Luka-luka irisan yang ada di kaki dan tangan mereka memang sudah ada sebelum mereka di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa, dan diperkirakan bahwa luka itu berasal dari orang tua mereka yang menyiksa mereka dulu.


    
    

Kamis, 21 April 2016

AKU INGIN DAN AKU BISA!!!

"Wow!! ayah coba lihat! ada sesuatu yang terbang!" teriak Aldo bersemangat. "Itu pesawat terbang, sayang" jawab ayahnya. "Waaahh, kereeenn". Aldo adalah seorang anak berumur 7 tahun, dari pasangan Pak Lukiman dan Bu Citra. Keluarganya memang hidup pas-pasan tapi tidak pernah kekurangan. Rumah mereka dekat dengan bandara, jadi hampir setiap hari mereka melihat pesawat terbang. "Ayah, suatu hari nanti, aku ingin buat pesawat terbang" ucap Aldo. Ayahnya hanya tersenyum. "pikiran anak kecil" pikir ayahnya.

Pada saat Aldo berumur 10 tahun, ayahnya kembali bertanya kepadanya "Aldo, apa cita-citamu?". "Aku ingin membuat pesawat terbang ayah.." jawabnya. Ayahnya kembali berpikir, "tunggu saja beberapa tahun, pasti cita-citanya berubah". Namun, dari hari ke hari, cita-citanya tidak berubah. Setiap kali ia mendengar suara pesawat terbang, tekadnya semakin bulat. Ketika Aldo lulus SMP, ia memilih masuk ke suatu SMA, di mana pada perpustakaan SMA itu, memiliki koleksi buku-buku yang lengkap tentang pesawat terbang. Setiap jam istirahat, ia pergi ke perpustakaan untuk belajar tentang mekanisme pesawat terbang, sampai ia mengerti betul, semua bagan-bagan pesawat terbang.

Ketika ia telah lulus SMA, ayahnya bertanya lagi, "Aldo, apa cita-citamu?". Namun jawabannya tidak berubah, "aku ingin membuat pesawat terbang". Akhirnya ayahnya menyerah. "Di mana kau mau melanjutkan sekolahmu, nak?" tanya Pak Lukiman. "Aku ingin bersekolah, di mana ada pendidikan tentang cara membuat pesawat terbang" jawabnya. Ayahnya terkejut. "Aldo, ayah mendukung cita-citamu, nak. Tapi jika kau ingin bersekolah tempat yang ada pendidikan cara membuat pesawat terbang, itu hanya ada di Amerika. Ayah tidak sanggup membayarnya" ujar ayahnya. "Kalau begitu, aku tidak usah sekolah saja" jawab Aldo. "Aldo, sayang sekali kalau kecerdasanmu ini tidak dikembangkan, nak" ujar sang ayah, lagi.
Namun, sekeras apapun usaha Pak Lukiman membujuknya, Aldo tetap tidak mau sekolah. Akhirnya Pak Lukiman menyerah dan membiarkan anaknya itu tidak bersekolah. Aldo memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kotanya.

Pada suatu hari, ada beberapa orang dari perusahaan Boeing, Amerika yang datang ke Indonesia untuk melihat-lihat. Mereka menyadari bahwa ada banyak anak bangsa yang berprestasi. Jadi mereka membuka tawaran untuk bersekolah di Boeing, Amerika secara gratis. Berita tersebut sampai pada Pak Haris, bos Aldo. Ia mengetahui betapa besar anak itu menyukai pesawat terbang, jadi ia menawarkannya pada Aldo.
Tentu saja Aldo tidak akan mensia-siakan kesempatan ini. Namun, ternyata Aldo masih belum memenuhi persyaratan, karena yang bisa ikut tes ini  minimal bersekolah setingkat S1. Ia memohon dengan sangat kepada atasannya itu, untuk membantunya. Cara apapun akan dia lakukan. Sampai pada akhirnya, dengan bantuan bosnya, ia dapat mengikuti tes masuk. Dari antara banyak orang yang mengikuti tes, hanya dia sendirilah yang hanya lulusan SMA. Namun, dia tidak menyerah.Sampai pada waktu pemilihan, dia terpilih menjadi salah satu orang yang mendapat beasiswa.

Akhirnya, Aldo pun pergi dan bersekolah di Amerika.

Pesan : Jangan menyerah dengan apa yang telah kau impikan. Dan jangan takut untuk bermimpi besar. Tetaplah berdoa, dan berusaha. Siapa tahu, mimpi itu bisa menjadi kenyataan. God Bless.. :)

Kamis, 16 Oktober 2014

CAMPING ACTIVITIES

“Libur telah tiba...libur telah tiba...Horee!!!” Yah begitulah geng hina, mereka emang lagi seneng banget, karena spesial liburan kali mereka lagi camping bersama. “Gaisss!! Tungguin dong, capek nehh!!” Keluh Sheill dari kejauhan. “Haish kamu tuh lemah banget sih, cepetan dong,kalo nungguin kapan nyampenya?” Balas Monica. “Alah kamu sendiri juga lemah, buka tutup botol air mineral aja gak bisa-_-” Sela Carla. “Shhh...Anda buka aib, buka baju aja seger, bercanda deng :)”. “Lhoo mau berenang ta? Kok buka baju?” Sahut Feli. “Ehh udalah cepetan udah mau malem nih!” Ucap Lani dengan bibir monyong 5 cm.

Saat hari mulai gelap, akhirnya mereka sampai ke tempat camping mereka, pemandangan di sana bisa dibilang sangat “apik” saat sedang menikmati suasana yang indah itu tiba-tiba Sheill nyaut “Duhh pengen BAB nih kebelet, gimana dong?” Sontak semua anak melihat dengan pandangan speechless campur bengong ke Sheill. “Capek deh, itu disana ada toilet umum kamu bisa melakukan kegiatan menjijikanmu itu disana.” Kata Carla. “Helloww kata mamaku nahan BAB bisa alot nanti keluarnya.” Balas Sheill. “Oh ya? Mamaku kok ga bilang gitu? Ntar kalo pulang tak tanya mamaku deh.” Ucap Feli dengan tampang polos. “Ya iyalah, itu mamamu bukan mamanya Sheill! Emang kalian 1 embrio hah?” Seru Monica dengan gemas ke Feli. “Brohh gimana nih nasib gue? Udah diujung tanduk nih!! Malah tahlilan-_-” Kata Sheill dengan muka absurd. “Ya okey ayo kita cari tempat buat kamu membuang hajat jangan bocor dulu loh ya!” Timpal Lani.

Setelah muter-muter se-Paris, akhirnya Lani sama Sheill menemukan tempat yang strategis buat membuang hajat. “ Nah akhirnya ketemu juga.... Eh Sheill yang lain kemana kok cuma kita berdua si?” Tanya Lani panik. Sejenak Lani celingak – celinguk , ke kanan ke kiri.. “ Alah gapapa lah.. ntar mereka juga balik.. aku sekarang lagi kebelet.. aku mau nuntasin ini dulu..” Jawab Sheill. “Nggeh deh cepetan tak tunggu di sini.” “Loh kamu gak ikut ta?” tanya Sheill. “Ya gak lah, ngapain ngeliatin kamu buang hajat-__-” “Ayolah takut aku, kalo ketakutan malah gak keluar-keluar.” “Udahlah cepetan malah tak tinggal loh.” Ancam Lani. “Iya deh jangan ditinggal loh ya, awas aja.”

Setelah sekitar 15 menit Sheill balik menghampiri Lani. “Laniii aaaaaaaaaa” Teriak Sheill. “Hahh kenapa Sheill??” tanya Lani sambil melotot. “Teheee gapapa cuma nyapa. Hai” balas Sheill dengan muka flat.
“Hihhhhhhh dasar sarap!!” Umpat Lani
“Sarap bukanya merk tv?” Tanya Sheill dengan tampang sok bodohnya
“SHARP MBAK SHARPPPP!!” Teriak Lani dengan muka poker facenya
“Ooh udah ganti toh maap.” Jawab Sheill dengan muka sok nyesel.
“Ya udah daripada aku pengen nabok orang, mending kita balik aja yuhh”
“Siap bos.”

“Gaessssssss, ayem hirrrr!!!!!” seru Sheill dari jarak 2 meter. Biasa, Sheill emang hobi nya teriak-teriak. Buktinya, pas rumah tetangganya kebakaran dia teriak-teriak “Hehh aduhhh kebakaran aerrr aerrrr.” Ya iya sih ya.
“Udah plong Sheill?” Tanya Carla
“Sudah makasih sudah bertanya.. sekian dan terimakasih.. Wassalam..” Ucap Sheill gaje.
“Plong apanya sih?” Tanya Monica yang sudah ketularan virus lepo dari Feli.
“PLONG... OPLONG.. OPLONG.. ADA OMPLONG KECEBUR KOMPLONG...” Sahut Sheill dan Carla kompak gaje.
“Udah jangan ngamen lagi, cepet buat tenda aja.” kata Lani
“Aduh kepala ku pusing tiba-tiba” ucap Carla
“Aku lagi sariawan, ga bole kecapekan kata pembantuku.” celetuk Sheill
“Pinter...Bilang aja males, udah cepetan sini bantuin.” judes Monica
“Emang kalo sariawan ga bole kecapekan ya? Aku juga sariawan soalnya, 3 lagi, dibawah lidah 1, di bibir 1, di gigi 1. Ada 3 kan??” sahut Feli

Sontak, semua yang mendengar ucapan Feli, langsung ngowo tidak percaya mereka punya teman sepolos itu.
“Kamu enelan temenku ta Fel?” Tanya Carla. JLEB!!
“Loh iyakan... Kita kan emang uda jadi temen sejak dalam kandungan.. Kamu lupa ya? Masa uda pikun siii... IHHHH Capekdeh aku ngomong sama kamu.. Kepolosanmu sudah keterlaluan Car...” Balas Feli
“Hah ga kebalik ta gaess?” Sela Sheill.
“Aiss udahlah ga usa dibahas siapa yang paling polos... Mending kita bantuan Lani yang mukanya uda kayak cabe merah itu!!” Ajak Monica
“Emang Lani kenapa kok mukanya sampek merah gitu?” Tanya Feli
“Ya gara-gara kita ga bantuin dialah buat bangun tenda... Haduhhh...” Balas Carla dengan muka flat.
“Iyaa.. Mending kita bantu sekarang deh gaess.. daripada kita pulang nanti hanya tinggal nama.” Sela Monica.

Akhirnya setelah menjalani debat rutin, mereka mulai membantu Lani membangun tenda. Rupanya mereka takut ketika pulang nanti, mereka akan tinggal nama karena sudah dihajar sama Lani dan tidak bisa ikut acara camping.... END

By : Vania Carla D ( IXA /28/5666)
Zelda Shaellia W (IXB/29/5674)

Rabu, 22 Januari 2014

Dari Single ke Double

Perkenalkan namaku Roran. ciri-ciriku itu tinggi sekitar 171 cm. berambut pirang. dan yah single. aku satu-satunya anak single di kelasku. tapi tak apa. yang satu ini pengalamanku yang menyenangkan...
    Waktu itu, tepat pukul 7 pagi di hari Rabu. Jam wekerku berbunyi nyaring. Suara yang aku benci. Aku mandi dan bersiap untuk sekolah. Jove, dia sahabatku, sudah menungguku didepan rumah. "Roran!!! cepatlah!! Kau tahu hari ini hari apa, huh? Mrs. Sophia akan memakan kita jika kita terlambat!" teriaknya. aku tergupuh-gupuh. Dan keluar dengan menggigit selembar roti. "Apa kau kesiangan lagi?" tanya Jove. "Tidak. Hanya saja aku masih ngantuk".
    Yups, Jove benar. Kami terlambat. "Roran, akan kubunuh kau, kalau kita kena hukuman berat" kata Jove. Aku menggertakkan gigiku. Dan... Saat aku dan Jove masuk, Mrs.Sophia melihat kearah kami. Seakan-aka dia akan menerkam kami. "Jove, Roran. kalian terlambat?".Kami hanya bisa diam sambil menggenggam erat tas kami. "CEPAT KALIAN BERSIHKAN TOILET DAN LAPANGAN!!! DALAM SATU JAM, SAYA AKAN MENGECEK. JIKA BELUM SELESAI...KALIAN AKAN MENDAPATKAN KEJUTAN YANG LAIN!!!" Marah Mrs.Sophia pada kami.
    Kami segera lari menuju toilet. "Jove, kabar buruknya adalah ada sekitar 5 toilet di sekolah ini". Jove langsung menatapku. "Ini celaka. Cepat roran. kau bersihkan lapangan dan aku toilet! cepat!!!". Kami berlari dan berpisah. bagus, lapangan besar ini penuh dengan daun kering. Dan sepertinya angin tidak bersahabat juga.
    Waktu aku menyapu dedaunan, aku melihat cewe. Sepertinya dia murid baru disekolah ini. Dia datang menghampiriku, dan bertanya. "Bolehkah aku bertanya?". Tanyanya dengan suara yang lembut. "B-b-boleh". "Dimana tempat kelas 12?". Itu kelasku. dia pasti kena hukum juga nantinya. "Yah, temyu. letaknya tidak jauh dari lapangan ini. tinggal jalan lurus, belok ke kanan. Ada kelas bercat putih, itulah kelas 12" Dia pun mengangguk, "terima kasih". Cewe itu berlari, mengikuti arah yang kukatakan. Aku belum sempat menanyakan namanya.
    Tak lama kemudian, cewe itu datang lagi padaku. "Hey! Kamu Roran 'kan?". Dia menyebut namaku? dari mana ia bisa tahu namaku? "Mrs.Sophia menyuruhku membantumu. Karena aku terlambat". ooh Mrs.sophia. "Baiklah. aku belum tahu namamu" Kataku sambil menggenggam erat sapu. "ooh. maaf. Namaku Phaell. Aku murid baru disini. Aku tinggal di West Road 13A". Katanya memperkenalkan diri. West Road? Itu rumahku. Tapi aku West Road 11A. Dia tetanggaku? Bagaimana aku tidak tahu?. tapi akhirnya aku menyapu bersama dia, Phaell. Pekerjaanku sudah selesai, begitu juga Jove. kami masuk kelas bersama.
    Bel istirahat berbunyi. semua murid keluar kelas kecuali satu, Phaelli. Mungkin dia belum dikenal banyak anak. Tapi dia akan kesepian. aku ajak saja. pikirku. "Paell, Kenapa kamu tidak makan? mau kah kamu istirahat denganku?" tanyaku tergagap-gagap. Dia tersenyum "Baiknya kamu. baiklah aku mau". Kami pun Beristirahat ria bersama. Kami saling menceritakan pengalaman kami. Bertukar cerita, lebih tepatnya.
    Sepulang sekolah, aku menanyakannya lagi "Phaell, kamu mau gak pulang bareng. Mumpung rumah kita berdekatan". Wajah gembira menghiasi wajahnya. Dia mengangguk. Jove datang. "Silahkan naik, tuan dan nona". aku memelototi Jove. Didalam mobil, kami bernyanyi-nyanyi. Paell juga ikut menyanyi. Sampai juga di West Road. Jove menurunkan kami. "Terima kasih Jove, Roran :)" kata Phaell sambil senyum. 
    Aku membuka pintu rumah. Memandang langit-langit rumah. Akhirnya aku punya ide. Aku pun pergi kerumah Phaelli. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dan... "Ada apa Roran?" Tanyanya melalui jendela. Terdengar hentak kakinya berlari membuka pintu. "mmmmmmm. mau gak, kamu main sama aku" tanyaku. Phaell pun berteriak "Ma! Bolehkan aku berjalan-jalan dengan Roran?!". Terdengar teriakan mamanya meng-iyakan. "Ya. Boleh". Saat Phaell mau menutup pintu papanya keluar. "Hati-hati, ya". kami mengangguk serentak.
    Dijalan kami bercakap banyak. "Roran, aku lupa memperkenalkan orang tuaku. nama mamaku itu Perrie. dan papaku Zayn". aku mengangguk. Kami berjaan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Karena merasa tidak enak aku mulai berbicara "Apakah kamu tahu? Taman kota disini sangat bagus untuk bersantai". Tanyaku. "Oh-Ya? Aku ingin tahu". 
Tidak lama kemudian, kami sampai ditaman kota. Kami duduk disalah satu kursi dibawah rindangnya pohon. kami sempat berbincang-bincang sedikit, dan bercanda. Angin bertiup kencang, meniup rambut brunette Phaell. Serasa, waktu membeku. Aku ingin berkata, tapi aku tidak bisa. "ooh, jangan gagalkan aku sekarang" Kataku dalam hati. 
"Roran? Kamu tak apa, kan?". Kata Phaell sambil tertawa. " ooh aku tak apa...". Phaell menjawabku dengan senyuman manis. "Aku harus mengatakan yang sebenanrnya! Aku bukan pecundang. Ayolaah, Roran". Aku terus berbicara pada diriku sendiri. "Ini dia...' 
Aku akhirnya memberanikan diri berkata, "Phaell?". "Ya, Roran?". "Aku sebenarnya ingin mengatan ini dari pertama...tapi, aku ingin menentukan saat yang tepat. mmmm, Aku suka sama kamu.." Kataku perlahan. Aku pikir Phaell akan mengatakan hal sebaliknya, tapi.. "Roran, Roran. Baiklah, kita jalani saja". Kata Phaell sambil mencubit pipiku. Hari mulai malam senaiknya kita pulang.
Aku mengantarkan Phaell pulang terlebih dahulu. Phaell melambaikan tangan dan memelukku. Aku pun pulang dan masuk kedalam rumah. serasa hidup baru dimulai. aku berbaring di tempat tidur hingga aku pun tidur. hha.
Yups! Itulah ceritaku. Dari single ke double. Akhirnya aku bukan satu-satunya lagi yang single xx. 
 
(oleh Raphaela Mirari)

Kamis, 07 November 2013

JANJI SEORANG SAHABAT SEJATI

  Pagi hari ku terbangun, melihat sinar mentari yang mulai menyinari
dunia. Burung-burung di udara sudah mulai memamerkan suaranya yang
merdu di mata dunia.

    Mulailah aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Setelah
itu aku sarapan dengan kedua orang tuaku. Selanjutnya ku cek buku-buku
di dalam sekolah ku dan berangkat ke Sekolah. Bagi anak-anak sebayaku
mungkin sekolah itu sangatlah membosankan. Tapi itulah hal yang
kusukai.  Karena disanalah aku dapat bertemu dengannya, bertemu dengan
sahabatku. Sahabat yang akan memberiku pengertian apa itu arti hidup
di dunia ini selain orang tua di rumah.

    Sejak semalam aku menantikan pagi hari dapat segera tiba agar dengan
cepat ku bertemu dengannya. Bertemu dengan sahabatku yang tercinta,
namanya adalah Asya. Setiap hari ku bermain-main dengannya. Makan
siang bersamanya. Bagiku yang pemalu tanpa dia, hidupku serasa kurang
lengkap. Dia telah merubahku, membuat aku menjadi lebih berani dari
pada sebelumnya. “Asya, halo apa kabar? Aku kangen nih.” sapa ku
setiap pagi setelah tiba di kelas. “Ah.. baru gak ketemu 1 hari.”
balasnya kepadaku. “Sya nanti kita makan di kantin ya. Aku lapar nih.”
kataku kepadanya. “ya ampun, km badannya kecil tapi makan terus.”
katanya sambil tertawa. Itulah hari hariku bersamanya. Suatu hari aku
bilang kepadanya. “Sya, kita tuker-tukeran buku catatan yuk... kelas
kita kan berbeda. Biar aku bisa tau keadaan mu dan kamu bisa tau
keadaanku.” kemudian dia menjawab ajakan ku “oke, siapa takut.” sejak
itu kami mulai tuker-tukeran buku catatan setiap hari. Di dalam salah
satu halaman buku catatan itu berisi sebuah peraturan yaitu...
“sahabat sejati selalu bersama, tiada kata berpisah”. Hari-hari
berlalu cepat karena kami berdua menikmati hari-hari kami dengan
gembira.

    Suatu hari aku mendengar pembicaraan orang tuaku. Mereka bilang bahwa
aku akan dipindahkan ke Amerika bulan depan. Aku kaget setelah
mendengarnya. Kata orang tuaku, aku harus dipindahkan ke Amerika
karena pendidikan disana jauh lebih baik dibandingkan dengan di sini.
“bagaimana aku bisa menjelaskannya kepada Asya. Aku takut dia marah”
lalu aku menulis itu di buku catatan kami berdua. Kuserahkan kepadanya
melalui kotak pos di sudut rumah nya dan langsung pergi. Paginya dia
mengembalikan buku itu langsung kepadaku dan langsung pergi. Buku
catatan itu berisi bahwa dia membenciku karena aku melanggar peraturan
dalam buku catatan itu dan dia tidak mau mengenalku lagi. Hari-hari ku
berubah sejak aku tidak bersahabat lagi dengannya.

    Hari-hari kulalui tanpa senyuman di wajahku, hanya kesedihan yang ada
di hatiku. Aku mulai menangis di atas tempat tidurku. Tempat tidurku
yang biasanya empuk bagaikan kapas telah, berubah keras akibat
kesedihanku yang membuat segala yang ku sentuh menjadi tidak enak.
Lalu kutulis di buku catatan itu “Sya aku minta maaf aku tau aku salah
karena telah melanggar perjanjian itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku
tak bisa menentang orang tuaku. Mereka ingin supaya aku mendapat
pendidikan setinggi mungkin” kemudian aku pergi ke rumahnya Asya
kemudian ku masukan kedalam kotak pos di rumahnya. Keesokan harinya,
hatiku berdegup kencang, apakah aku akan dimaafkan olehnya? Hanya
waktu yang bisa menjawab pertanyaanku.

    Kami mulai berhadapan dan dia menatapku dengan tatapan aneh dan
tiba-tiba memeluku sambil berkata “aku minta maaf, aku tau aku sangat
egois. Aku akan merelakan mu pergi, tapi kau harus berjanji kita akan
berkirim-kiriman E-mail setiap hari.” aku menjawab “aku janji” hanya
kata-kata singkat yang keluar dari mulutku. Kami mulai menangis di
tempat itu. Membasahi seluruh lantai koridor di sekitar kami.

    Tak lebih satu bulan sejak hari itu aku pergi ke bandara. Kini aku
dapat pergi ke Amerika dengan tenang. Meskipun aku sudah di Amerika
nanti aku akan selalu mengingatmu akan kukirimi kau E-mail setiap hari
dan saat liburan nanti aku akan mengunjungimu... Wahai sahabatku yang
baik hati... Kau lah sahabat sejati yang terpenting bagiku.. ku tak
akan pernah meninggalkan mu hanya karena jarak lokasi kita. Aku akan
selalu menjadi sahabat sejatimu meskipun aku telah memiliki banyak
teman baru nanti di sana. Karena kaulah Sahabat Sejatiku....


Cerpen tentang sahabat sejati
Oleh: Agnestasya Rosari Pramana

GONBE DAN 100 ITIK

Di sebuah desa, tinggal seorang ayah dengan anak laki-lakinya yang bernama Gonbe. Mereka hidup dari berburu itik. Setiap berburu, ayah Gonbe hanya menembak satu ekor itik saja. Melihat hal tersebut Gonbe bertanya pada ayahnya, “Kenapa kita hanya menembak satu ekor saja Yah?”, “Karena kalau kita membunuh semua itik, nanti itik tersebut akan habis dan tidak bisa berkembang biak, selain itu kalau kita membunuh itik sembarangan kita bisa mendapat hukuman.”
Beberapa bulan kemudian, ayah Gonbe jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Gonbe berburu itik sendirian dan menjualnya. Lama kelamaan, Gonbe bosan dengan pekerjaannya, ia mendapatkan sebuah ide. Keesokan hariya, Gonbe datang ke danau yang sudah menjadi es. Ia menebarkan makanan yang sangat banyak untuk itik-itik. Tak berapa lama, itik-itik mulai berdatangan dan memakan makanan yang tersebar. Karena kekenyangan, mereka tertidur. Gonbe segera mengikat itik-itik menjadi satu. Ia mengikat 100 itik sekaligus. Ketika itik ke seratus akan di ikatnya, tiba-tiba itik-itik tersebut terbangun dan segera terbang. Gonbe yang takut kehilangan tangkapannya, segera memegang tali yang diikatkannya ke itik tersebut.
Karena banyaknya itik yang diikat, Gonbe terangkat dan terbawa ke atas. Gonbe terus terbang terbawa melewati awan. Di awan tersebut Ayah dan anak halilintar sedang tidur dengan nyenyak. “Dugg!”, kaki Gonbe tersandung badan ayah halilintar. Ayah halilintar terbangun sambil marah-marah, ia segera mengeluarkan halilintarnya yang kemudian menyambar tali-tali yang mengikat itik-itik itu.”

Gonbe jatuh ke dalam laut! Ia jatuh tepat di atas kepala Naga laut yang berada di Kerajaannya. Naga laut menjadi marah dan mulai memutar-mutar ekornya, lalu memukulkannya ke Gonbe. Gonbe terbang lagi dari dalam laut. Akhirnya Gonbe jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi. Akhirnya Gonbe jatuh ke atap jerami rumah seorang pembuat payung. “Kamu tidak apa-apa?”, Tanya si pembuat payung sambil menolong Gonbe. “Maaf atap anda jadi rusak. Berilah pekerjaan pada saya untuk mengganti kerugian anda”. “Kebetulan, aku memang sedang kekurangan tenaga pembantu”, kata pembuat payung.

Sejak itu Gonbe menjadi rajin membuat payung. Suatu hari, ketika sedang mengeringkan payung di halaman, datang angin yang sangat kencang. Karena takut payungnya terbang, Gonbe segera menangkap payung tersebut. Tetapi payung tersebut terus naik ke atas bersama Gonbe. Dengan tangan gemetaran Gonbe terus memegang payung sambil terus terbang dengan payungnya hingga melewati beberapa kota. Payung tersebut akhirnya robek karena tersangkut menara dan pohon-pohon. Gonbe pun jatuh. Untungnya ia jatuh tepat di sebuah danau. Gonbe merasa lega. Tidak berapa lama tiba-tiba kepala Gonbe di patuk oleh sekawanan hewan. “Lho ini kan itik-itik yang aku ikat dengan tali. Ternyata benar ya, kita tidak boleh serakah menangkap sekaligus banyak.” Akhirnya Gonbe melepaskan tali-tali yang mengikat kaki-kaki itik tersebut dan membiarkan mereka terbang dengan bebas.



HIKMAH :
Kita tidak boleh menjadi orang yang tamak dan serakah serta kikir. Cerita di atas menggambarkan adanya hukuman bagi orang yang tamak serta melanggar ketentuan yang sudah ada.

SAHABAT ADALAH SEGALANYA

Hai namaku Rina aku sekolah di SMP Citra Bangsa. Aku duduk di kelas 8. Aku mempunyai teman namanya Alex dia sangat keren, pintar dan cukup terkenal di sekolah ini. Jujur, aku suka pada dia aku selalu mendekatinya dan aku berusaha bersahabat baik dengannya. Suatu saat, aku bertukar pin BB sama dia. Setelah bertukar pin bb, ya seperti remaja biasanya kita berdua chat layaknya sahabat. Kita saling bercerita satu sama lain. Kita juga kalau disekolah saling menyapa dan saling berbicara.

Suatu saat, aku menerima BBM dari dia yang berisi pernyataan hmmm.. seperti itulah. Aku pun menerimanya sepenuh hati. Aku sangat senang memlikinya. Sampai-sampai aku telah melupakan sahabatku yang selalu ada untukku. Aku merasa, mereka mulai menghindariku tetapi ya sudahlah toh aku juga lebih suka bersama Alex.

Tetapi semua berbeda, Alex mulai menjauhiku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan kembali bersama sahabatku atau aku mencoba untuk berbaikan pada Alex. Ya, aku mulai dengan berbicara pada sahabatku

Hai Tia. Bolehkah aku bergabung? “ tanyaku pada salah satu sahabatku
Ya tentu saja mengapa tidak? “ Jawabnya dengan singkat
Aku pikir kamu sudah lupa dengan kami “ kata Gioadaku
Hey apa maksudmu? Aku masih ingat dengan kalian hahaha “ kataku. Jujur saja kata-kata Gunawan itu berasa tidak enak di hatiku tapi ya sudahlah
Kamu ada masalah dengan Alex “ tanya Tia
Ya “ jawabku dengan merenung
Sudahlah ayo kita pergi ke KFC “ lanjut Tia

Kami semua pergi ke KFC. Dan tiba-tiba aku melihat Alex sedang makan bersama temanku bernama Nia mereka terlihat bagaimana gitu dan jujur aku agak ga enak dengan mereka. Alex melihatiku tetapi Nia justru berkata pada Alex “ Sudahlah mengapa kamu melihat dia seperti itu? Biarkan dia bersama teman-temannya yang tidak penting itu “ jujur saja, aku tidak suka Nia berkata seperti itu aku berusaha baik-baik bersama dia tetapi Nia justru membalasku seperti itu apalagi ia juga mengatakan bahwa sahabat-sahabatku ini tidak berguna.
Dan ternyata apa yang Alex lakukan? Alex menuruti perkataan Nia. Akhirnya aku keluar dari KFC dengan perasaan marah. Tentu saja Tia dan Gio mengejarku.

Rina, kamu kenapa? “ tanya Tia
apakah kamu tidak melihat sikap alex terhadapku? Dia lebih mementingkan Nia dari pada aku. Apalagi dia bilang kalian sahabat yang tidak penting. “ jelasku
Apa?! Alex bilang begitu? Keterlaluan sekali dia itu. Dia sudah melukai hati sahabatku “ jawab Gio. Aku sangat kagum dengan sahabatku berkata seperti itu. Aku menyesal lebih mementingkan Alex daripada sahabatku.
keterlaluan dia Rin, sudah-sudah lebih baik kiamu jauhin mereka berdua. Kamu masih punya kita . “ kata Tia
tiba-tiba Fitri dan Oliv datang
Hey Rin, aku tadi melihat...” kata Fitri yang terputus denganku
aku sudah tau semua itu! Aku mengerti Nia lebih perfect dari akiu dan aku tau aku tidak cocok dengan Alex” selaku sambil marah-marah
Sudahlah Rin! Kamu sama dia itu beda jauh. Kamu itu cantik dari pada dia kamu itu apa adanya “ kata Gio
Setuju tak ritwit! Dia itu cuman menang make up aja Rin. Kamu tau kan dia suka make up make up ga jelas “ lanjut Tia
Ya benar. Dia cuman menang tinggi dan dia pintar basket. “ kata Fitri
Sudahlah. Sebenarnya kamu itu bisa menang dari dia tapi dia itu licik dan kamu tidak kamu selalu mengalah. Sudah sebaiknya yang lalu biarlah berlalu. Kita semua maish sayang sama kamu “ kata Oliv
Terima kasih teman-teman kalian memang shaabtku yang paling baik. “ jawabku dengan terharu

Sejak saat itu aku sangat berterima kasih kepada mereka. Dan aku punya prinsip. Setau-taunya pacarmu pasti sahabat-sahabatmu itu lebih tau dan mengerti dirimu karena itulah arti sahabat yang sesungguhnya

by: Feiliana Maria. H 7C

I WILL LOVE YOU

* This story orginal from @farrah_puteri @Agreaciaa *
Suasana sebuah gedung bernuansa putih ini terlihat mulai padat akan para tamu undangan yang datang. Sekitar seribu undangan disebar dalam acara pernikahan ini. Bagaimana tidak,generasi penerus perusahaan terbesar di Korea Selatan Blue Sky Corp dan New moon Corp akan melangsungkan pernikahan. Karena ingin menambah kejayaan dua perusahaan tersebut,akhirnya terjadilah perjodohan diantara putra putri mereka. Ivan Satria yang sekarang menjabat sebagai directur Blue Sky Corp akan segera melangsungkan pernikahannya dengan Greacia Florens dari New moon Corp.


Nampak seorang gadis yang tak lain adalah Greacia berjalan mondar-mandir dengan gaun putih khas pengantin di ruang ganti. Ada sedikit rasa takut didalam hatinya. Bagaimana bisa secepat ini? Bukankah kami masih baru saja bertemu? Setidaknya itulah yang sedari tadi gadis itu pikirkan. Memang benar jika Ivan orang yang akan menjadi suaminya itu baru dikenalnya dua minggu lalu. Semua persiapan pernikahannya bahkan sudah siap sebulan yang lalu,kedua orang tua merekalah yang sudah mempersiapkannya.




CEKLEK “ anggap bunyi pintu -_- “




            Greacia menoleh dan mendapati Ivan yang memakai tuxedo putih tengah berdiri diambang pintu.


            “Kau gugup?” Ivan berjalan  mendekat ke arah Greacia yang kini hanya menundukkan kepalanya.
            “Maaf”


            “Ada aku disampingmu” Ivan mengangkat dagu Greacia agar gadis itu bisa menatapnya “Ini adalah awal. Dari sini kita memulai segalanya”.
 


 
            Sepasang anak manusia yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suami istri kini terlihat memasuki sebuah apartement mewah disalah satu kawasan elit yang terletak di jantung kota Seoul.


            Greacia langsung menelusuri setiap sudut apartement yang akan dia tinggali bersama Ivan.
            “EOH? Kenapa tempat tidurnya hanya satu?” ucap Greacia setelah memasuki kamar. Ivan yang sedari tadi membawa koper melewati Greacia begitu saja.


            “Dari awal mereka sudah merencanakannya” Ivan sedang meletakkan koper miliknya dan Greacia di sudut kamar. Walau tak melihat secara langsung, Ivan tau perubahan wajah Greacia sekarang. Wajah Greacia berubah masam sejak melihat kamar yang akan mereka tiduri.


            Dengan perlahan Greacia kini mulai menuju arah balkon apartement. Memejamkan matanya dan dihirup dalam udara malam yang memang sedikit dingin,setidaknya untuk menenangkan pikirannya.


            “Kau menyukainya?” sontak saja Greacia membuka matanya entah sejak kapan Ivan kini juga tengah berdiri disampingnya.


            “Dari sini aku bisa melihat bintang dan bulan. Aku sangat menyukai itu”


            “Mama bilang kita akan tinggal disini hanya untuk beberapa minggu. Setelah itu kita bisa menempati rumah kita.” Greacia menghadap Ivan yang tengah memandang langit yang bertaburan bintang.


            “Ko Ivan … Maaf” Ivan menoleh ke arah Greacia, mengkerutkan keningnya pertanda jika lelaki ini tak mengerti maksud dari perkataan Greacia.


            “Maaf karna membuatmu harus menikah denganku.” Ivan tersenyum. Digenggamnya erat tangan Greacia.


            “Bukankah aku sudah bilang jika semua ini adalah awal? Tentunya kau sendiri tau jika aku masih belum bisa melupakan Luke . Tapi aku akan berusaha melupakannya. Dan berusaha untuk mencintaimu.”


            “Tapi bukankah kau sangat mencintainya? Jika bukan karna perjodohan ini,kalian pasti akan segera melangsungkan pernikahan.”


            “Kalau begitu,bantulah aku untuk melupakannya. Ajari aku untuk mencintaimu. Bagaimanapun kita telah berjanji dihadapan Tuhan untuk saling mencintai dan saling menjaga hingga maut memisahkan kita.” Greacia menitihkan air matanya. Sungguh tak pernah dia pikirkan sebelumnya jika Ivan berbeda dengan lelaki lain.
Dimana lelaki lain akan membenci gadis yang dijodohkan dengannya karena telah merusak hubungannya dengan gadis yang sangat dicintainya. Tapi ini? Luke adalah kekasih Ivan. Mereka sudah berpacaran selama hampir satu tahun. Namun mereka harus berpisah karena Ivan lebih memilih Greacia , gadis yang dijodohkan dengannya.


Tapi Greacia tau jika sampai saat inipun Ivan masih mencintai Luke ,bahkan masih sangat mencintai gadis itu.


“Baiklah. Aku akan membuatmu mencintaiku dan membantumu melupakannya.” Ivan memeluk Greacia erat. Sejujurnya dia sangat sakit mengingat takdir yang tengah mengujinya saat ini.


Saranghae Ivan”

HP TEMANKU HAMPIR MELEDAK

Pada suatu hari aku dan teman teman ku yang bernama Chaos dan Jane sedang bekerja kelompok dirumah Jane. Lalu kami bukannya mengejakan tugas tetapi malah bermain. Kami bermain sampai lupa waktu. Maklumlah hoby kami bermain. Kami bermaun apa saja. Seperti bermin kartu dan tebak-tebakkan bahkan kami pun mainan komputer. Kami pun sampai lupa waktu.
Tapi kemudian kami sadar waktu kami sudah berlalu dengan sia-sia karena bermain tadi. Akhirnya kami “cepet-cepetan” mengerjakan tugas. Karena Chaos tidak membawa apa-apa, dia kami suruh mengerjakan tugas. Lama juga sih dia ngerjain tugasnya maka dari itu aku ambil ahli tugas itu.
Au yang dibantu oleh Jane mengerjakan tugas itu secepat kilat karenaa kami iingin segera menelesaikannya. Sedangkan Chaos tidak mengerjakan apapun. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu ku dan Jane. Selain menunggu ternyata ia juga bermain Hp. Ia mendownload game yang seru dari internet. Aku tidak tau nama game itu apa tapi aku yakin game itu game yang berat.Buktinya saja Hp nya sampai panas. Lucunya saat dia memutuskan untuk menghentikan download itu Hp nya error.
Kemudian aku memberi saran untuk mematikan Hpnya. Yah mungkin karena Hp nya yang error itu. Tapi setelah beberapa lama dibiarkan Hpnya mati-mati sendiri. Hpnya juga semakin panas. Sampai-sampai ia berbicara kalau telur ceplok yang diletakkan di Hp nya akan berubah menjadi telur gosong. Karena aku menakut-nakutinya kalau Hpnya bisa saja meledak, ia takut sendiri. Berualang kali ia mencoba menyalakn Hpnya. Tapi tetap saja Hpnya masih mati. Aku dan Jane terus tertawa melihat tingkah lakunya sampai perut kami berdua sakit.
Tiba-tiba Hpnya nyala-nayla sendiri. Ia semain takut tadi Hpnya mati-mati sendiri sekarang nyala-nyala sendiri. Aku dan Jane akhirnya takut juga jangan-jangan Hpnya benar-benar meledak. Dalam keadaan yang masih panas dan error Hpnya terus mati lagi. Benar-benar aneh, apa jangan-jangan akan meledak beneran? Kemudian dalam hitungan 1,2,3 Hp Chaos nyala dan kembali ke sepeti semula. Untunglah lega rasanya. Kalo meledak beneran kami bisa jadi korban ledakan.

SALAH NGOMONG

Suatu hari di tempat kursus Matematika, ada nak baru yang bernama Zelia. Ia dalah anak yang mudah bergaul dengan orang lain, sehigga ia dengan lebih mudahnya bergaul dengan anak-anak kursus itu yang telah lama mengikuti kursus disitu.Guru kursus itu bernama Pak Huda. Pak Huda memiliki beberapa murid lama disitu diantaranya adalah Yohanes,Closs,Angel,dan Vannie.
Suatu ketika, pada saat kursus zelia selesai mengerjakan tugas dari Pak Huda lebih dulu dibanding yang lain. Maklumlah Zelia dari tadi serius mengerjakan dibanding anak-anak lainnya. Pak Huda memeriksa jawaban Zelia. Ada beberapa jawaban yang salah. Lalu Pak Huda meminta Zelia untuk membetulkannya.
Setelah membetulkannya Pak Huda membolehkan Zelia pulang. Tapi Zelia malah bertanya “ Loh udah selesai ta pak? Cuma segini aja ta?” Pak Huda yang hobinya guyonan itu menjawab “ Kamu mau lagi ta? Yaudah tak kasih soal lagi ”. “ Loh pakkk... gausah deh pak jangan pak aku pingin pulang sekarang yang tadi itu cuma bercanda kok..” Jawabnya. “ Yah siapa suruh tadi bilang seperti itu jadinya sata tambahi lagi soale nek kurang” Jawab Pa Huda. Lalu seketika itu juga Closs menyahut “ Hahaha salah omong tuhhh...”. Mendengar itu semua anak kursus yang ada di situ tertawa... Zelia jadi malu dan sampek-sampek tanpa ia sadari mulutnya juga maju ke depan. Kemudian Vannie dengan nada belas kasihan ia menyahut “ hehh jangan gitu loh kasian tuh ada yang malu. Mukaknya jadi warna ijo tuh hahaha...”. Yang tadi belum selesai ketawa mendengar omongan Vannie jadi makin ketawa terbahak-bahak sampek ga bisa berhenti. Ga mau kalah Angel ikut-ikutan ngomong “ Eh-eh lihat tuh bibirnya udah monyong 5 cm” Langsung kursus itu menjdi kayak pasar, suasananya rame sekali. Bahkan Pak Huda pun ikut tertawa tetapi anehnya dari tadi ada satu anak yang ga tertawa yaitu Yohanes.
Lalu karena kebingungan Yohanes bertanya “ Apaan sih kok pada ketawa? ”. Jawab Zelia “ Konyol kamu... Masak dari tadi aku ditertawain kamu ga ngerti sih... Pentium lima kamu!!! ”. Langsung semua anak tertawa lagi kali ini Yohanes ikut tertawa bahkan semua anak uda berhenti tertawa ia masih tertawa. Pentium lima itu sebutan untuk orang lola (loading lambat) tingkat lima alias tingkat kepemahamanya sudah kebangeten lambatnya.
Pak Huda akhirnya memecah keramaian itu “ Udah-udah berhenti ketawa. Kamu nang pulango sana ngrusuhi tok disini!! ”. “ Iya-iya pak. Bentarlah aku masih tata-tata barangku pakkk. ” Jawab Zelia. Selesai tata-tata Zelia bertanya kepada Pak Huda “ Pak Pr ku apa? ”. “ Loh kamu mau dikasih Pr ta? ” Kata Pak Huda. Dengan percaya diri Zelia menjawab “ Loh bukane gitu pak tapi biasae kan dikasih Pr.. ”. “Alasan aja. Yaudah tak kasih sini ” Jawab Pak Huda. “ Yah ga usa deh pak aku tadi juga bercanda kok.. ”. Lalu Closs memotong pembicaraan iyu lagi “ Salah omong lagi yaahh hahaha ”. Kejadian yang sama terulang lagi, anak-anak langsung tertawa mendengar itu. Tapi bedanya kali ini Pak Huda cepat-cepat memotong “ Wes ga usa ketawa lagi nanti perut kalian sakit kalo tertawa lagi saya tidak mau tanggung jawab. Untuk hari ini tidak ada Pr dulu. Kamu cepetan pulang dan kalian juga boleh pulang sekaran karena saya masih harus nge-les-i yang lain. ”. “ Oke pak ” Jawab kami dengan senang.

Kamis, 23 Mei 2013

BEST FRIEND

Pagi ini, aku memasuki sekolah yang baru. Aku berharap aku punya banyak teman di sekolah yang baru ini. Satu langkah lagi aku menginjakkan kaki di sekolah baruku. Nah, aku sudah sampai dan segera menuju ke kantor guru. Kemudian guru mengajakku ke kelas untuk diperkenalkan kepada teman baruku. Aku pun memasuki kelas lalu memperkenalkan diriku. Guru menyuruhku duduk di samping seorang cowok. Aku pun duduk dan berkenalan dengan dia. Cowok itu bernama Aditya. Aku baru mempunyai dia sebagai seorang teman di sekolahku yang baru. Tapi aku bersyukur karena aku cepat mendapatkan teman baru di sekolah baru meskipun hanya satu orang. Dia sangat baik dan ramah meskipun dia baru mengenalku. Tak tahu kenapa aku sangat senang mengenalnya. Apa mungkin karena sifat dan kepribadiannya baik ya? Aku pun berpikir demikian. Apa ada sesuatu yang lain???

Bel istirahat pun berbunyi, menghentikan pikiranku tentang dia. Dan sekarang waktunya untuk menghentikan pelajaran sejenak dan beristirahat. Aku pun pergi ke kantin bersama Aditya. Setibanya di kantin banyak siswa yang berpandangan sinis kepadaku. Apa mungkin ini karena wajahku asing bagi dia ya? Aku hanya menunduk dan menunduk. Saat hendak membeli makanan bel istirahat telah usai berbunyi. Semua murid berlari lari menuju kelas termasuk aku. Di tengah jalan aku bertabrakan dengan seorang cewek, Kimi. Dia juga sedang bergegas menuju kelas karena jam istirahat telah usai. Setelah tabrakan kami menjadi akrab dan berteman baik. Karena kejadian itu setiap hari aku pergi kemana mana dengan mereka dan bersahabat baik.

Pada suatu saat, aku sedang jalan berdua dengan Aditya dan bercanda bersama. Dan Kimi melihatnya. Kimi pun langsung pergi begitu saja. Aku tidak tahu mengapa Kimia berbuat demikian. Aku sangat bingung. Aku segera mengejar dan menghampiri Kimi untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kimi pun berlari terus dan aku tidak bisa mengejarnya, karena bel masuk telah berbunyi sementara aku dan Kimi berbeda kelas. Pada saat pulang sekolah, yang biasanya Kimi pulang bareng sama aku. Sekarang dia tidak menungguku dan telah pulang. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba ada seorang siswa yang mengatakan bahwa sebenarnya Kimi suka dengan Aditya. Aku sekarang tahu apa yang menyebabkan Kimi tiba-tiba benci kepadaku setelah dia melihat aku bercanda dengan Adit. Aku pun merasa sangat bersalah karena telah membuat sahabtku sendiri terluka. Aku segera pergi ke rumah Adit untuk menjelaskan semuanya apa yang telah terjadi kepada Kimi dan Adit pun mengerti. Kemudian dia mengajakku untuk pergi menghampiri Kimi dan menjelaskan bahwa aku dan Adit hanya sekedar berteman. Pada awalnya Kimi memang tidak percaya tapi setelah aku dan Adit meyakinkan Kimi akhirnya Kimi percaya dan bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya kami bisa bersahabat baik selamanya.

YULINA

SAHABAT

Sore itu, aku sedang bermain bersama teman-temanku di kompleks perumahan kami. Saat tengah asyik bermain, tanpa sengaja aku melihat sesosok anak perempuan yang kira-kira masih seumuran denganku. Gadis kecil itu mengenakan celana pendek merah jambu dengan flat shoes merah, dan kaos yang warnanya senada. Hmmm, seketika itu juga, aku teringat akan sosok sobat kecilku dulu, Ayu. Dia berjalan ke arahku. Kukira ia akan menghampiriku, ternyata tidak. Ia berbelok ke arah supermarket di kanan jalan. Sebenarnya aku ingin menunggu sampai gadis itu keluar dari supermarket, namun adikku si cerewet sudah keburu menelepon dan menyuruhku pulang. Akhirnya kubatalkan niatku itu, dan segera mengayuh sepedaku menuju rumah.

Pagi harinya, aku berangkat ke sekolah bersama adikku, Shania. Setelah mengantar adikku sampai di depan pintu gerbang sekolahnya, aku segera menuju ke sekolahku. Sekola h sudah cukup ramai, dan akupun masuk ke kelasku. Elina belum menampakkan diri, aku berniat menunggunya. Sampai sepuluh menit kemudian, ia tak kunjung datang. Segera kuambil handphone kesayanganku, dan meneleponnya. Namun tak ada jawaban. Aku segera keluar dari kelas dan berjalan terburu-buru ke pintu gerbang. Kutunggu beberapa menit, Elina tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku kembali menuju kelasku yang tenteram dan nyaman. Pukul 06.45, yaa bel masuk sudah berdering. Elina belum juga datang. Aku hanya berpikir bahwa ia terlambat. Sampai jam istirahat, ia belum menampakkan diri di sekolah. “Hmmm, mungkin ia sakit,” pikirku.

Sepulang sekolah, aku kembali meneleponnya. Dan kali ini, ia menjawab teleponku. Rupanya benar dugaanku, ia sakit. Elina sakit demam. Aku berniat mengunjunginya, namun ia menolak. “Kamu jangan mampir ke rumah, besok aku udah bisa sekolah kok, sampai ketemu besok ya, Nad,” ucapnya. Akupun menuruti permintaannya. Sesampainya di rumah, aku kembali teringat sosok gadis kecil yang kemarin tanpa sengaja bertemu denganku di taman. Pikiranku melayang jauh, “Apakah itu Ayu??” Namun aku tak mampu menjawabnya. Sebenarnya aku bermaksud untuk menceritakannya pada Elina, namun karena ia sedang sakit, maka kuurungkan niatku itu.

Seminggu telah berlalu sejak hari dimana Elina tidak masuk sekolah. Namun sampai seminggu itu juga, Elina belum menampakkan diri sekolah sama sekali. Dan aku juga kehilangan komunikasi dengannya. Aku sudah mengujungi rumahnya, namun menurut tetangga di sekitar rumah Elina, rumah itu sudah kosong sejak seminggu yang lalu. Itu artinya sejak hari pertama Elina tidak masuk sekolah. Aku merasa kesal sekali padanya.

Sebulan berlalu, dan belakangan ini, aku baru tahu bahwa Elina pindah sekolah. Aku makin kesal padanya. Aku merasa sudah tidak dianggap sebagai sahabat lagi. Suatu siang, sepulang sekolah, sebuah nomor telepon yang belum ada dalam phonebook handphoneku menelepon. Di ujung sana, terdengar suara yang tak asing lagi bagiku. “Halo Nadia. Ini aku,” ucap penelepon itu. “Ini dengan siapa ya?” tanyaku. “Heyy, kamu sudah lupa sama akuuu?” jawabnya. “Aku Elina,” lanjutnya. Segera kuakhiri percakapan itu. Kekesalanku yang sudah mulai hilang, kembali muncul.

Akhir-akhir ini, aku jadi sering marah. Yaaa, sepertinya emosiku tak dapat dikendalikan. Mamaku menjadi semakin heran. Dua bulan setelah kepergian Elina, sebuah surat datang. Mamaku yang menerimanya. Dan ternyata, itu surat dari Elina. Ia bercerita di dalam surat itu. Hmm, aku baru tau dari surat itu, Elina menderita sebuah penyakit, dan harus menjalani pengobatan selama beberapa bulan secara intensif. Sehingga ia harus meninggalkan bangku sekolah untuk sementara waktu. Aku merasa malu, sekaligus menyesal. Tanpa terasa, aku sudah menangis dalam pelukan mama.

Satu tanda tanya besar tentang Elina sudah terjawab. Tinggal satu tanda tanya tentang Ayu dan tentang gadis kecil yang pernah kutemui. Selama beberapa kali, aku sering berkirim surat dengan Elina. Aku menceritakan sosok gadis kecil itu dan Ayu. Dari surat-suratku bersama Elina, mungkin aku sudah hampir bertemu titik terang tentang gadis itu. Elina mengaku, ia memiliki seorang sepupu yang ciri-cirinya seperti gadis yang kutemui. Elina juga mengirim foto sepupunya itu. Dan ternyata, gadis itu adalah sepupu Elina. Ketika kutanya namanya, yaaaa, namanya adalah Ayu. Dan nama lengkapnya juga sama dengan sobatku Ayu. Akhirnya, aku memiliki kesempatan untuk berkirim surat dengan gadis itu. Dannnn, benar!!!! gadis itu adalah sobat lamaku yang sudah lama tak kutemui.

Sehari setelahnya, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Elina telah meninggalkanku untuk selamanya. Yaa, ia telah tiada. Selamat tinggal Elina :”)

Junezarra^^

It's Teenager Life!

Selamat pagi dunia… duniaku yang baru….
Baru? Hahaha sepertinya kalian belum tau duniaku yang kelabu yang kupastikan kalian tidak akan pernah menyangka. Mari kita kembali ke 3 bulan yang lalu

“Sekolah itu nggak penting” prinsipku nggak usah sekolah tapi yang penting nantinya aku bisa cari uang. Hari demi hari di bangku kelas 8 aku lewati dengan kebosananku … tiap hari ketika ada ujian jujur saja aku tidak pernah mau belajar , pikiranku aku hanya belajar karena formalitas.. yah memang aku tidak pernah mendapat nilai jelek di sekolah… jujur saja… aku hanya ingin membahagiakan papa-mamaku… mungkin sedikit puitis gapapa kali ya…
tiap di sekolah aku pasti ketemu dengan guru kalok ga karena tidak mau mendengarkan guru yah pasti disuruh ikut lomba. Prinsipku tidak akan ada yang bias menggangu gugat.. itu PRINSIP pikirku… tapi ternyata setelah aku naik ke kelas 9 mamaku mulai memberhentikan guru lesku... yahh aku sangat senang tapi ketika pertama kali ujian nilaiku SESUATU , JATUH! Aku mulai bingung dan betapa malunya pertama kali aku mengikuti her... setelah aku bercerita dengan mamaku , mamaku menyarankan aku untuk mulai mencari sesuatu yang dapat memotivasi diriku. Yang dapat memotivasi ku adalah keinginan sekolah di luar kota.. karena aku benci dengan teman-teman ndeso + 4l4y . Ujian berikutnya nilaiku mulai naik. Tapi belum maksimal.. aku rasa ada yang berbeda dengan biasanya.. tapi apa motivasi yang kurang..
Minggu depan aku ke Surabaya.. hari yang sangat ku nanti.. saat ke Surabaya aku pergi jalan-jalan , shopping dan waktu aku jalan di mall barang belanjaanku terjatuh dan menimpa seseorang.. sungguh menyusahkan pikirku . Lalu aku mendatangi orang itu aku meminta maaf dan ternyata... ada sesosok laki-laki , yah muka-muka koko” Surabaya lah~ tapi aku tidak cukup tertarik.. saat aku minta barang belanjaanku , dia menolaknya lalu aku marah-marah dan dia bilang “cantik sih.. tapi kalok nggak sopan.. apa daya” aku terkejut.. untuk pertama kalinya aku berkata “MAAF” kepada orang lain selain papa & mamaku
Dan mungkin aku menyadari motivasiku adalah “CINTA” ya ! Semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta.. tapi menurutku dia biasa- biasa saja malah kalau aku dan dia bbm'an sering bertengkar.. tapi kenapa aku punya motivasi itu (?) setelah kami mulai berbaikan aku mulai menanyai data dirinya .. ternyata dia seumuran denganku.. aku makin sering bertengkar sampai suatu hari dia menyatakn perasaannya.. dan aku menerimanya.. nilaikun semakin meningkat jauuhh... aku sangat bahagia memiliki dia.. sampai suatu hari dia memasang display picture cewek di bbm'nya dia bilang itu di hack tapi aku curiga.. lalu mulai mengganti status dari love s jadi love j dia bilang itu love Jesus karena dia agama Kristen.. sampai aku mulai curiga .. selama 3 hari aku' pun sering bertengkar dengan dia.. setiap bbm'an aku selalu menangis.. aku tidak tahu apalagi yang harus aku perbuat.. dan dia pun mulai memutuskan hubungannya denganku dan aku seperti anak ababil lainya “GALAU”
susah sekali aku untuk berpaling dari'nya..nilaiku turun drastis.. aku tidak tau apa yang harus kulakukan.. sampai aku pernah menelfon dia tapi malah di reject sungguh sakit hati... sampai suatu hari aku berfikir LIFE MUST GO ON ! Yah inilah kehidupan remaja ! It's teenager life ! Yang bisa merasakan GALAU , SAKIT HATI hahaha 4l4y kelihatannya ya... mungkin aku terlalu berlarut dalam kesedihan dan aku menyesali perbuatan bodohku untuk mencintai dia karena yang seharusnya menangis adalah dia
itu ceritaku 3 bulan lalu , makanya aku sekarang sangat merasa “BEBAS” karena motivasi yang baik adalah motivasi CINTA dari orang tua...

Smile itu Good

Sering kali, kalau pas mau ujian sekolah pasti raut wajah para siswa pada cemberut. Ya iya si, semua ini karena banyaknya bahan pelajaran yang harus di masukin ke otak ini. Pas ujian itu biasanya tangan anak-anak pada nempel di jidat dan kadang rambut di acak-acak. Nah, selain gara-gara ujian muka anak-anak pada merengut gara-gara pada galau. Padahal ya, buat kita-kita yang masih dianggap kecil ini harusnya pada fokus buat belajar. Percuma kalo misalnya pacaran, biasanya pada gamau ngakuin pacar, kalau ketemu di sekolah pasti buang muka, biasanya beraninya cuma di BB atau alat elektronik lain nya. Dan pernah baca sih kalau kebanyakan galau bisa jerawatan. Menurut aku sih suka itu boleh tapi jangan sampai ngelupain pelajaran dan jadi ga fokus, takutnya sih ntar di kelas malah senyum-senyum dan takutnya bisa dihukum, apalagi kalau pas diajar sama guru killer.

Nah dari dua masalah diatas daripada kita pusing-pusing dan apalagi kita dihukum sama guru, mendingan kita senyum aja. Senyum itu bisa buat kita :
~Berpikir positif 
  Nah senyum itu bisa membuat kita lebih berpikir positif dan mengurangi pikiran negatif.
~Percaya diri
  Orang yang suka senyum katanya mempunyai rasa percaya diri daripada yang pelit senyum.
~Obat alami
  Penelitian membuktikan bahwa dengan tersenyum kita telah melepaskan hormon endorphin, seronin, dan senyawa yang dapat mengurangi rasa sakit. Itulah sebabnya mengapa setelah tersenyum kita akan merasa jauh lebih baik.
~Menyembunyikan rasa lelah
  Tersenyum akan membuat kita lebih terlihat menarik, dengan itu rasa lelah yang mungkin dirasakan bisa cukup tersamarkan.
~Awet muda
  Kalau kita tersenyum kita memerlukan 17 otot sedangkan kalau cemberut memerlukan 43 otot. Mangkanya kalau  cemberut bisa terlihat lebih tua.
Jadi,ga ada lagi alesan untuk kita cemberut, senyum bisa membuat kita lebih menarik untuk dipandang. 
 
So,smile now bro!

GARA-GARA LOLIPOP

Hai!! Namaku Kenny, sekarang aku kelas 5 SD. Aku sangat suka dengan lolipop, hampir setiap hari aku selalu mengemut lolipop tercinta. Suatu hari ada anak baru di sekolahku, ia bernama Teri. Teri juga suka lolipop sepertiku. Setiap hari aku dan Teri selalu bertengkar cuma gara-gara merebutkan lolipop. Kadang Mr.Jack (guru bahasa Inggris) suka memberi kuis, dan barangsiapa yang bisa menjwab kuisnya bisa mendapatkan lolipop!! Aku dan Teri sangat berjuang untuk mendapatkan lolipop dari Mr.Jack. Tiada hari tanpa bertengkar dengan Teri. Sampai semua guru dan teman-teman kami menggelengkan kepala melihat kelakuan kami di sekolah. Oya, tidak hanya di sekolah, rumahku dan Teri itu bersebelahan dan kami pun juga berebut lolipop di warung dekat rumah. Karena lolipop di warung dekat rumah kami jumlah lolipop nya cukup terbatas.

Suatu hari aku dan Teri sama-sama mendapat nilai terbaik atas ulangan Bahasa Inggris di kelas. Maka dari itu Mr.Jack memberi lolipop. Tapi sayangnya lolipop yang dibawa Mr.Jack hanya 1!! Tentu saja aku dan Teri berebut lolipop itu dan akhirnya dengan berat hati Mr.Jack memberi lolipop itu ke Teri. "Kringggggg" bel istirahat pun berbunyi, saat makan dikantin dan tentunya aku mengemut lolipop tercintaku. Tiba-tiba Teri datang meminta maaf karena Teri yang mendapat lolipop dari Mr.Jack. Akupun memaafkan Teri dan akhirnya kita bersahabat!! Happy ending banget deh pengalaman aku, sebaiknya kalian jangan bertengkar dengan teman kalian jangan seperti aku dan Teri ya!!