Tampilkan postingan dengan label AGNESTASYA ROSARI PRAMANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGNESTASYA ROSARI PRAMANA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2015

I Hate but I Love Him



by: Agnestasya Rosari P. and Eilien Levina S.

Elisa, itulah namaku. Aku adalah seorang anak yang pendiam dan unpopuler. Di sekolahku ada murid baru bernama Albert. Dia adalah anak yang berkebalikan dariku. Dia supel dan populer. Dia pintar dan juga ceria. Jujur, aku sedikit kagum dengannya. Dia itu cowok yang menurutku mendekati sempurna. Bayangkan, dia itu ganteng (menurut banyak orang), baik, pinter dalam segala bidang, dan kaya. Tetapi, ada  kekurangannya : dia tidak bisa baik padaku. Aku tak tau apa penyebabnya. Tetapi, sejak awal dia selalu mengejekku. Berlina, satu satunya temanku bilang dia seperti itu karena dia iri padaku. Menurutku, tidak ada sesuatu yang bisa membuat dia iri padaku. Apa sih yang bisa kubanggakan? Aku memang pintar tetapi dia kan juga pintar. Jadi, apa yang membuatnya iri padaku? Bukannya harusnya aku yang iri padanya? Dia mempunyai banyak temanku sedangkan aku tidak. Dia populer sedangkan aku tidak. Dia ceria sedangkan aku pendiam. Mungkin, dia tidak iri padaku. Aku merasa, ada sesuatu hal yang membuatnya dia melakukan itu tetapi bukan karna dia iri padaku.

          Entahlah. Aku tidak mau ambil pusing dengan urusan itu. Toh, aku tidak mempermasalahkannya. Dari dulu aku selalu dihina walaupun tidak semua orang yang menghinaku. Banyak yang bilang aku jelek lah, tidak tegas lah, dan lain-lain. Hatiku sudah kuat dengan segala olokan itu. Aku cuek dengan semua itu. Karena, inilah diriku. Diriku yang jelek, tidak tegas, dan ceroboh. Menurutku, kita tidak harus menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang lain kan? Diri kita ya diri kita. Tidak perlu menjadi orang lain. Jika semua orang tidak menjadi dirinya sendiri, apa mereka nyaman? Kurasa tidak.

          Besoknya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Selesai menaruh tas di kelas, aku langsung pergi ke tempat yang sepi. Menurutku, hanya aku yang tau tempat ini. Tetapi, kurasa tidak. Saat aku tenggelam dalam dunia membacaku, tiba-tiba ada yang datang. Well, dia adalah Albert. Konsentrasiku dalam membaca hilang seketika. Dia bertanya padaku, kenapa aku ada disana.. Aku hanya bilang bahwa itu adalah tempat rahasia bagiku dan tidak ada orang lain yang tau tempat itu sebelumnya. Setelah itu dia langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Dia itu aneh. Dia aneh tapi aku bisa kagum padanya. Sebenarnya dia atau aku yang aneh?

          Beberapa minggu aku lalui semakin lama aku merasa bahwa dia semakin sering mengejek dan menggangguku. Aku selalu berfikir “mengapa aku selalu diganggu olehnya.. aku itu aneh? Jelek? Atau ada sesuatu pada diriku yang membuat dia begitu. Keesokan harinya dia menyembunyikan tasku di sudut kolam berenang sekolah. Sudut kolam berenang adalah tempat yang menyeramkan karena gelap dan sepi. Dia tau bahwa aku tidak akan berani kesana. Lalu aku memberanikan diri dan langsung berlari sekuat tenaga untuk keluar dari ruangan olahraga renang tersebut. Ternyata di depan pintu dia sudah menunggu. Begitu aku keluar dari sana, dia mengagetkanku. Aku yang kaget dan sangat takut terpeleset karena ada sedikit air kolam berenang yang tergenang di lantai. Kakiku memar dan banyak luka bengkak di tanganku. Dia yang mau menolongku tapi dengan wajah menahan tawa bercampur wajah sesal mengulurkan tangannya. Aku yang marah langsung menepis tangannya. Aku langsung membentak dia dan berkata bahwa aku benci padanya dan tidak mau mengenalnya lagi. Waktu itu aku sangat marah dan langsung pergi meskipun seluruh tubuhku terasa sakit. Jadi, aku tidak sempat melihat tampang mukanya.

          Keesokan harinya, disekolah ada anak yang tidak masuk yaitu Albert. Kata guru piket dia tidak masuk karena dia mengalami kecelakaan waktu pulang dari sekolah kemarin. Sepeda yang dia kendarai di senggol motor yang pengemudinya anak sekolah dan dia terbentur pagar pembatas jalan. Jujur, aku shock mendengarnya. Setiap hari aku berdoa, semoga Albert bisa sembuh secepat mungkin.

          Satu bulan kemudian, Seorang anak memakai topi dan jaket yang berjalan sedikit pincang dengan kepala yang masih di perban menghampiriku. Yup, itu adalah Albert. Dia hanya bilang “Aku hanya mengganggu orang yang aku suka” langsung pergi dan kembali ke mobil dengan para bodyguardnya. Aku yang diam dan berfikir sejenak. Aku baru sadar bahwa dia suka padaku, orang yang selalu ia ganggu. Aku mengejar dia sesegera mungkin sebelum dia masuk ke mobil. Aku hampir saja jatuh karena menyandung batu. Tapi, aku bisa menyeimbangkan diriku lagi. Dia melihatku dan langsung berbalik arah. Aku bilang “orang yang kusukai adalah orang yang selalu menggangguku”.

Kamis, 07 November 2013

JANJI SEORANG SAHABAT SEJATI

  Pagi hari ku terbangun, melihat sinar mentari yang mulai menyinari
dunia. Burung-burung di udara sudah mulai memamerkan suaranya yang
merdu di mata dunia.

    Mulailah aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Setelah
itu aku sarapan dengan kedua orang tuaku. Selanjutnya ku cek buku-buku
di dalam sekolah ku dan berangkat ke Sekolah. Bagi anak-anak sebayaku
mungkin sekolah itu sangatlah membosankan. Tapi itulah hal yang
kusukai.  Karena disanalah aku dapat bertemu dengannya, bertemu dengan
sahabatku. Sahabat yang akan memberiku pengertian apa itu arti hidup
di dunia ini selain orang tua di rumah.

    Sejak semalam aku menantikan pagi hari dapat segera tiba agar dengan
cepat ku bertemu dengannya. Bertemu dengan sahabatku yang tercinta,
namanya adalah Asya. Setiap hari ku bermain-main dengannya. Makan
siang bersamanya. Bagiku yang pemalu tanpa dia, hidupku serasa kurang
lengkap. Dia telah merubahku, membuat aku menjadi lebih berani dari
pada sebelumnya. “Asya, halo apa kabar? Aku kangen nih.” sapa ku
setiap pagi setelah tiba di kelas. “Ah.. baru gak ketemu 1 hari.”
balasnya kepadaku. “Sya nanti kita makan di kantin ya. Aku lapar nih.”
kataku kepadanya. “ya ampun, km badannya kecil tapi makan terus.”
katanya sambil tertawa. Itulah hari hariku bersamanya. Suatu hari aku
bilang kepadanya. “Sya, kita tuker-tukeran buku catatan yuk... kelas
kita kan berbeda. Biar aku bisa tau keadaan mu dan kamu bisa tau
keadaanku.” kemudian dia menjawab ajakan ku “oke, siapa takut.” sejak
itu kami mulai tuker-tukeran buku catatan setiap hari. Di dalam salah
satu halaman buku catatan itu berisi sebuah peraturan yaitu...
“sahabat sejati selalu bersama, tiada kata berpisah”. Hari-hari
berlalu cepat karena kami berdua menikmati hari-hari kami dengan
gembira.

    Suatu hari aku mendengar pembicaraan orang tuaku. Mereka bilang bahwa
aku akan dipindahkan ke Amerika bulan depan. Aku kaget setelah
mendengarnya. Kata orang tuaku, aku harus dipindahkan ke Amerika
karena pendidikan disana jauh lebih baik dibandingkan dengan di sini.
“bagaimana aku bisa menjelaskannya kepada Asya. Aku takut dia marah”
lalu aku menulis itu di buku catatan kami berdua. Kuserahkan kepadanya
melalui kotak pos di sudut rumah nya dan langsung pergi. Paginya dia
mengembalikan buku itu langsung kepadaku dan langsung pergi. Buku
catatan itu berisi bahwa dia membenciku karena aku melanggar peraturan
dalam buku catatan itu dan dia tidak mau mengenalku lagi. Hari-hari ku
berubah sejak aku tidak bersahabat lagi dengannya.

    Hari-hari kulalui tanpa senyuman di wajahku, hanya kesedihan yang ada
di hatiku. Aku mulai menangis di atas tempat tidurku. Tempat tidurku
yang biasanya empuk bagaikan kapas telah, berubah keras akibat
kesedihanku yang membuat segala yang ku sentuh menjadi tidak enak.
Lalu kutulis di buku catatan itu “Sya aku minta maaf aku tau aku salah
karena telah melanggar perjanjian itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku
tak bisa menentang orang tuaku. Mereka ingin supaya aku mendapat
pendidikan setinggi mungkin” kemudian aku pergi ke rumahnya Asya
kemudian ku masukan kedalam kotak pos di rumahnya. Keesokan harinya,
hatiku berdegup kencang, apakah aku akan dimaafkan olehnya? Hanya
waktu yang bisa menjawab pertanyaanku.

    Kami mulai berhadapan dan dia menatapku dengan tatapan aneh dan
tiba-tiba memeluku sambil berkata “aku minta maaf, aku tau aku sangat
egois. Aku akan merelakan mu pergi, tapi kau harus berjanji kita akan
berkirim-kiriman E-mail setiap hari.” aku menjawab “aku janji” hanya
kata-kata singkat yang keluar dari mulutku. Kami mulai menangis di
tempat itu. Membasahi seluruh lantai koridor di sekitar kami.

    Tak lebih satu bulan sejak hari itu aku pergi ke bandara. Kini aku
dapat pergi ke Amerika dengan tenang. Meskipun aku sudah di Amerika
nanti aku akan selalu mengingatmu akan kukirimi kau E-mail setiap hari
dan saat liburan nanti aku akan mengunjungimu... Wahai sahabatku yang
baik hati... Kau lah sahabat sejati yang terpenting bagiku.. ku tak
akan pernah meninggalkan mu hanya karena jarak lokasi kita. Aku akan
selalu menjadi sahabat sejatimu meskipun aku telah memiliki banyak
teman baru nanti di sana. Karena kaulah Sahabat Sejatiku....


Cerpen tentang sahabat sejati
Oleh: Agnestasya Rosari Pramana