Warta TNH adalah blog yang dibuat untuk memuat hasil karya para siswa SMP TNH Mojokerto yang tergabung dalam kelompok ekstrakurikuler jurnalistik.
Kamis, 18 Agustus 2016
PANCA LOMBA, MALU, DAN JIMAT
Panca Lomba adalah suatu lomba dengan memakai tenaga atau kekuatan. Bukan itu saja, lomba ini juga memakai kekompakan antar anggota kelompok. Lomba ini terdiri dari balap karung, balap bakiak, balap kelereng, memasukkan pensil dalam botol, dan yang terakhir lomba makan kerupuk.
Saya satu kelompok dengan Michael A.S. dan Albert T. dari kelas VIII A. Kami mengatur bagian lomba masing masing anggota. Michael dengan lomba makan krupuk, Albert mendapat bagian memasukkan pensil sementara saya mendapat bagian balap kelereng dan balap karung sedang lomba bakiak kami bertiga yang mengikuti.
Memang kelihatannya mudah tetapi tidak semudah kelihatannya. Itulah yang menjadi salah satu kendala kami dalam lomba. Saat saya berlomba karung dengan lawan, saya terlalu menarik karung saya. Akibatnya, kaki saya terlipat dan saya pun jatuh ke tanah. Pak Andre yang menjadi MC acara saat itu langsung tertawa melihat saya terjatuh. Untuk menutupi rasa malu saya, saya cekikikan sendiri dan langsung berlomba bakiak yang menggunakan kekompakan. Kaki kaki kami harus bersamaan digerakkan. Saya pula yang harus memberi komando kanan kiri berkali-kali. Saat itu saya sepertinya salah mengucapkan komando sehingga Albert dan Michael jatuh berurutan. Kami harus segera bangkit karena lawan kami sudah mencapai lomba masukkan pensil sementara kami masih lomba kelereng.
Saya mempercepat laju saya saat lomba kelereng. Akhirnya, saya sampai pada Albert yang menunggu saya untuk menepuk pundaknya karena syarat Albert memasukkan pensil adalah harus menepuk pundak Albert terlebih dahulu baru nanti saat Albert menyelesaikan tugasnya, Ia harus menepuk pundak Michael.
Lawan kami saat itu sudah memakan kerupuk. Albert yang baru saja menyelesaikan tugasnya langsung menepuk pundak Si Michael. Michael langsung memakan krupuk kesayangannya itu. Lawan kami saat itu hanya menjilati krupuknya sementara saya membisiki Michael cara cepat memakan krupuk. Caranya adalah saat gigi sudah menggigit krupuk, maka krupuk itu jangan dilepaskan. Terus masukkan krupuk itu ke mulut.
Michael langsung menerapkan jimat dariku tadi. Tidak kusangka krupuk itu telah habis. Kami pun langsung dinyatakan sebagai pemenang.
Kamis, 06 Agustus 2015
KATA "WAH" UNTUK SMP TNH
Kamis, 07 November 2013
WAWANCARA PROFESI
tentang profesinya. Kami memilih untuk mewawancarai Pak Samsul Anwar
karena beliau dengan senang hati mau menjawab beberapa pertanyaan yang
kami ajukan tentang profesinya.
Dia bekerja di restoran cepat saji yang bernama “Kentucky Fried
Chicken” atau yang biasa disebut KFC, yang dibawah naungan YUM
Internasional Restaurant (International), dan PT. Fast Food Restaurant
(Indonesia). Nama presiden direktur adalah Bp. Dick Gelael.
Beliau menjabat sebagai Public Relation Store yang mempunyai tugas
mempromosikan paket – paket KFC dan Kids Marketing. Beliau bekerja
sejak tanggal 10 Agustus 1993, saat berumur 20 tahun. Sesungguhnya
sebelum bekerja di KFC, beliau pernah bekerja di dealer Honda yang
bernama “Lancar Motor”, tetapi beliau tidak dapat bertahan lama,
karena gajinya yang sedikit, sekitar Rp.10.000,00 per minggu pada saat
itu(1993). Setelah keluar dari pekerjaan tersebut, beliau memilih
bekerja di KFC karena beliau menyukai pelayanan dan bidang restoran,
terutama makanan cepat saji.
Alasan mengapa beliau dapat bertahan lama bekerja di KFC sampai saat
ini, adalah karena KFC sangat memperhatikan kebutuhannya, mulai dari
kesehatan, hingga gajinya (Rp. 3.200.000,00). Jumlah karyawan di sana
25 orang dan staffnya berjumlah sekitar 6 orang. Waktu pertama kali
bekerja di KFC beliau menjabat sebagai Food Store Team Member. Sekian
laporan kami tentang wawancara profesi. Terimakasih
Karya : 1. Giovanita Ellen Prasetya
2. Agnestasya Rosari Pramana
3. Ulwi Bertha Pratiwi Putri
KENANGAN TAK TERLUPAKAN
tetap meneguhkan hati dan terus berjalan menuju gerbang sekolah.
Sambil berjalan ku melihat tulisan di atas gerbang itu, di situ
tertulis “SMP Nusa Bangsa” aku sangat bangga diterima di sekolah yang
cukup favorit. Aku bangga sekarang aku memakai seragam putih - biru
khas anak SMP. Tetapi, aku tetap ada yang kuragukan, yaitu teman.
Ku sangat ragu akankah aku akan mendapatkan teman baru disini,
akankah aku mendapatkan teman sebaik Citra, teman lamaku itu? Tak
sadar aku telah sampai di depan kelas, tiba – tiba aku merasa tidak
nyaman ketika meloihat wajah – wajah asing, di sini tidak ada seorang
pun temanku yang bersekolah di SMP ini. Aku bergumam “Aku harus bisa!”
, Dawn aku masuk ke dalam kelas. Akhirnya bel tanda masuk berbunyi,
dan aku merasa sangat tidak siap untuk di MOS dan memperkenalkan
diriku di depan orang – orang.
Ketika semua anak telah masuk kelas, pengurus OSIS pun menyuruh kita
memperkenalkan diri kita di depan kelas. Aku bergumam lagi “Tuh kan
bener, disuruh ngenalin diri nih! Gimana caranya?”, kebetulan namaku
adalah Adelia! Hurf abjad A! Pasti akan memperkenalkan diri awal-awal.
Kemudian ku dengar pengurus OSIS memanggil sebuah nama dan setelah ku
dengarkan dia memanggil namaku! Dengan gelisah aku maju kedepan, aku
merasa tidak PD. Setelah di depan aku berkata “Halo Nama saya Adelia
Susanto, tapi saya biasa dipanggil Aya!......” setelah menyebutkan
alamat, sekolah asal, dan nomer telepon, aku kembali duduk di kursi
dan merasa sangat lega.
Sekian banyak anak telah maju ke depan, tetapi hanya satu anak yang
membuatkan ingit berteman dan memulai persahabatan dengannya, namanya
adalah Santi. Setelah di MOS, saat pulang sekolah ku beranikan diri
tuk menyapanya.
“Halo! Kamu Santi yang kelas 7B itu kan?” kataku
Dia menjawab “Iya, lho bukannya kamu Adelia?Kita sekelas ya?
Percakapan pun berlanjut hingga kita menjadi sahabat.
Sekolah pun terasa menyenangkan, aku tak pernah terpisah olehnya.
Hingga suatu saat aku menerima kabar kalau Santi kecelakaan dan
dirawat di rumah sakit, aku sangat terpukul. Aku mengunjungi setiap
pulang serkolah, begitu seterusnya. Tetapi pada hari Sabtu aku merasa
ada sesuatu yang ganjil, aku pun menemani Santi sampai malam, ketika
aku mau pulang, aku merasa tidak enak, ternyata benar Santi tidak bisa
diselamatkan. Aku menangis dan menangis. Tetapi itu sudah takdir tidak
bisa waktu terulang lagi, semua itu tinggal kenangan. Sekarang aku
telah merelakannya tetapi tidak akan pernah melupakanya. Santi Aku
akan selalu mengenang mu.
By : Giovanita Ellen P.
7B / 13 / 5724
KETIKA AKU MASIH SD
perpisahan di gedung SAHABAT.”hari nan indah dan berlalu....saatnya
kita kan berpisah...terjaring di lumbung hati ku...” suara siswa dan
siswi kelas enam sambil menangis .dan di sela-sela bernyanyi ada:
“Terima kasih guru ku kau telah mengajar kami dengan penuh semangat
sampai kau pulang sore dan meninggalkan anak mu yang masih berumur 5
tahun”kata anak yang membaca puisi
Dan kepala sekolah menyampaikan sepatah 2 kata berpidato.Semua murid
mendengarkan dengan laksana dan menangis......huhuhu.... “sebentar
lagi kita akan berpisah El”kata temen aku ”iya el kita akan
berpisah....”dan kata temen semuanya.Selesai kita melepas kepedian
kita bertukar kado ke temen laki dan temen cowok selesai kita bertukar
kado kita berfoto dan makan-makan bersama.
Selesai kita makan kita pergi pulang dan esok nya kita pergi ke
PERKEMAHAN di Trawas yang bernama PURI GENDIS.”AYO BANGUN SAATNYA KITA
PERGI KEMAH “sms dari temen aku yang bernama RUDI..sampai di sekolah
teman-teman aku diantar sama orang tua dan ditinggal.akirnya pada jam
08.00 kita berangkat ke PURI GENDIS
kiata sampai di sana pada pukaul 09.00,sampaoi di sana kita ganti baju
santai...kita bermain dan berpetualangan...kita ke puri Gendis 4 hari
3 malam
ITU KISAH AKU WAKTU SD
ELVIRA
7C/5715
Kamis, 18 April 2013
SAYA PILIH JURNALISTIK!
ZELDA SHAELLIA W. 7B
Kamis, 07 April 2011
PENGALAMAN PERTAMA JADI PROTOKOL UPACARA WALIKOTA
Senin, 21 Maret lalu adalah awal karirku sebagai protokol upacara bendera . Dan saat itu pula aku menyadari ternyata, menjadi protokol upacara itu bukanlah hal yang mudah apalagi dengan diperhatikan oleh lebih dari 700 pasang mata dan membawa beban nama baik sekolah. Benar – benar tanggung jawab yang berat. Meski berusaha mati – matian menenangkan jantungku, aku tetap tak bisa benar – benar mengendalikannya. Kamis, 11 November 2010
DAG DIG DUG GETAR JANTUNGKU
Senin, 4 Oktober 2010, saat pulang sekolah aku dipanggil guru bahasa Indonesiaku. Sesuatu yang tidak biasa. Katanya aku diberi kepercayaan untuk mewakili SMP TNH mengikuti lomba baca puisi tingkat Kota Mojokerto. Aku sendiri tidak mengira akan dipilih, tapi sebelum itu aku memang pernah juara dalam perlombaan baca puisi se-SMP TNH dan aku mendapat juara I. Rasanya senang sekali bisa mendapat juara I meskipun hanya tingkat SMP TNH.
Mendapat kepercayaan itu, rasanya senang dan bangga. Tapi... bagaimana dengan lawan-lawan yang sangat baik? Apa aku bisa? hmm.. Tapi aku sangat pede bahwa aku bisa dan baca puisi itu hal yang sangat kecil dan gampang. Setelah pulang, aku segera menceritakn kepada mamaku agar aku bisa menghadapi persoalan ini. Setelah mamaku mengetahui semuanya, Mama bilang “Lebih baik kamu ke guru yang pakarnya baca puisi aja.” Hmm, tapi aku berpikiran lain dengan mamaku. Dalam pikiranku, “Ngapain coba ke pakar yang bisa baca puisi, aku sudah bisa kok, kan gampang!”
Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya aku datang ke rumah guru yang telah terkenal sebagai pakarnya baca puisi yang kebetulan tetanggaku ditemani kedua ortuku. Tapi sayang, ketika aku ke sana ternyata orangnya tidak berada di rumah. Akhirnya aku pulang dengan jalan kaki bersama mama dan papaku. Rasanya kecewa banget, tapi apa boleh buat? Kita pulang dengan tangan kosong.
Pada kesempatan lain aku bersama mamaku datang lagi ke tempat pakar tersebut. Akhirnya untuk kesempatan kedua ini aku bertemu dengan guru tersebut. Pak Hanibal namanya. Ketika aku bertemu dengan Pak Han aku di jelaskan betapa sulitnya membaca puisi. Huh... jadi nggak yakin kalau aku mampu, apalagi guruku yang bernama Pak Jaka mengatakan bahwa cara membacaku masih terlihat membaca puisi gaya lama dan menurut pak Jaka aku sulit untuk mengubah pembacaan itu.
Perkataan Pak Jaka tersebut justru memotivasi aku. Dalam benakku aku berkata, “Aku harus bisa!!” “Aku harus bisa mengubah semua yang ada dalam diriku.”. Sesuatu yang yang sangat memaksaku tuk bisa dan terus bisa akhirnya aku belajar membaca puisi dengan P.Han, setelah hari hariku belajar bersama P.Han tibalah waktunya tuk tunjukkan membaca yang benar kepada P.Jaka. Sesuatu yang terucap dalam P.Jaka adalah “saya tak berfikir bahwa kamu bisa merubah kebiasaan membaca puisi lama ”hmm.. akhirnya... sekian lama ku belajar membaca puisi ternyata membuahkan hasil.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, tapi sebelum aku berada di SMA 2 aku di beritau kalau bisa aku di suruh sholat Tahajut agar segala sesuatu bisa tercapai, aku bersama mamaku pukul 03.00 pada tanggal 28 Oktober aku sholat Tahajut dan aku meminta “Tuhan, Lancarkan hariku ketika aku sedang membaca puisi Tuhan, aku tahu Tuhan, Tuhan pasti ada didekatku.. Tuhan aku minta pertolongan-Mu.” itulah yang ku minta pada Tuhanku..
Akhirnya..jam menunjukkan pukul 08.00 waktunya aku bertaruh dan akhirnya nomor 11 dipanggil tuk mementaskan aksiku, dan aku pun segera maju dan menampilkan aksiku. Aku membaca puisi yang berjudul “AKU TERHARU” buah karya ROESDI ZAKI. Setelah aku selesai membaca puisi nampaknya banyak yang lihai dan keren dalam membacakan puisinya tersebut tapi aku heran, kenapa orang-orang nggak ada yang membacakan “AKU TERHARU” yah??? padahal bagus, sesuai dengan kenyataan yang ada.
Lama sekali aku menunggu untuk mendengarkan pembacaan pengumuman pemenang. Setelah menunggu kurang lebih selama tiga jam, pengumuman pun dibacakan. Pembacaan pengumuman dimulai dari juara harapan 3. Bukan nomorku, juga bukan namaku.
Sampai juara III namaku tidak disebutkan. Justru seorang siswi dari SMP N 2 yang bernama Rininta yang menjadi Juara III. Aku berpikir, “Masih ada tiga kemungkinan lagi yaitu Juara I, Juara II atau tidak sama sekali. Dag dig duk getaran jantungku. Aku bayangkan, kalau diukur pakai seismograf tentu akan menimbulkan coretan-coretan panjang seperti di pos pengamatan Merapi.
“Juara kedua, dengan perolehan nilai enam ratus tujuh puluh lima jatuh pada nomor undian …..... SEBELAS.” “Atas nama Herdiana Indawati dari SMP TNH.” Seolah sebuah bendungan baru saja jebol. Lega rasanya. Akhirnya aku menjadi juara II. Sesuatu yang sangat mengejutkan dan sangat membanggakan bahwa aku bisa mengalahkan 29 lawan.
Aku menengok ke belakang. Rupanya kedua guruku juga sudah berada di belakangku. Sedari tadi beliau tidak ikut menunggu pengumuman karena harus mengikuti musyawarah guru di SMP N1. Mereka kemudian memberi selamat kepadaku. “Selamat ya Diana,” begitu kata Pak Blass juga Pak Jaka. “Tapi sanyang, nggak bisa juara I Pak,” keluhku. “Nggak apa-apa. Sudah bagus. Persiapannya kan singkat sekali.” Ini adalah pertama kalinya aku memperoleh juara untuk baca puisi di tingkat Kota Mojokerto. (Diana)