Oleh: TONI KRISTIANDARU
Liburan Natal dan Tahun Baru yang lalu, saya
menyempatkan diri untuk menikmati suasana di Jalan Malioboro. Perjalanan
dimulai di Stasiun Tugu Yogyakarta yang legendaris itu yang merupakan batas
antara Jalan Mangkubumi dan Jalan Malioboro.
Begitu menginjakkan kaki di trotoar Jalan Malioboro,
lautan manusia terlihat di sisi kiri maupun kanan Jalan Malioboro yang terkenal
itu. Maklum, saat itu adalah musim liburan, dimana penduduk dari berbagai
daerah di Indonesia mendatangi Kota Yogyakarta.
Begitu padatnya lalu lintas
para pedestrian, sehingga kecepatan jalan saya hanya 1 km/jam. Keasyikan saya window shopping souvenir, agak
terganggu dengan kewaspadaan menjaga saku kanan dan kiri dari para pengutil
dompet dan handphone.
Berbagai bentuk souvenir tersedia baik di toko
maupun pedagang kaki lima yang berderet sepanjang Jalan Malioboro. Mulai dari
kelengkapan busana berupa topi, asesoris, kaos oblong, t-shirt, daster wanita,
rok, celana panjang, celana pendek, sampai dengan alas kaki bermotif khas
Yogyakarta menggoda para pelancong untuk memilikinya.
Demikian pula cinderamata
berupa replika bangunan bersejarah di Yogyakarta dan sekitarnya berupa Tugu
Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan miniatur beberapa bangunan
bersejarah berbaris di sepanjang emperan toko. Saya pun terpikat dengan satu
replika Tugu Yogyakarta, tanpa pikir panjang saya pun setuju untuk mengeluarkan
kocek sebesar Rp 30.000,00 untuk memperolehnya. Barang-barang seni seperti
miniatur alat musik tradisional, miniatur alat transportasi khas Yogyakarta
seperti Andong dan Becak, juga gantungan kunci tidak luput dari incaran para
turis domestik dan mancanegara.
Suhu udara yang panas dan penatnya kaki semakin
mengocok perut dan mengeringkan kerongkongan manakala rombong bakso, soto ayam,
dan es teler durian khas Yogyakarta menyapa saya di beberapa persimpangan
jalan.
Setelah bertarung melewati ratusan pedagang kaki
lima dan menyibak konvoi manusia akhirnya saya tiba di Pasar Beringharjo yang merupakan
ujung Jalan Malioboro. Di tempat tersebut Becak dan Andong menawarkan cara
nikmat melanjutkan perjalanan.
Namun saya memilih untuk terus melangkahkan kaki
menuju dua bangunan bersejarah di depan saya, yaitu Gedung Agung di sisi kanan
dan Benteng Vredeburg di sisi kiri. Setelah mengabadikan beberapa sisi menarik
dari kedua bangunan bersejarah tersebut sampailah saya di Titik Nol Kota
Yogyakarta, atau Pusat Kota Yogyakarta yaitu di batas antara ujung Jalan
Malioboro menuju Alun Alun Utara Kota Yogyakarta. Beberapa langkah di depan
Titik Nol, di sisi kiri dan kanan, teguh berdiri bangunan saksi sejarah yaitu
Kantor Pos Yogyakarta dan Gedung Bank Indonesia Cabang Yogyakarta di sisi kiri
di dan Gedung Bank BNI 1946 di sisi kanan.
Demikianlah perjalanan saya menyusuri Malioboro,
sekian dan terima kasih.