Kamis, 19 Januari 2017

ElsNite Sword (bagian 2)

Keesokan paginya, Gwen sudah siap ketika ia mendengar ketukan di pintu. Ia mengambil pedang dan busurnya, kemudian membukakan pintu bagi kedua temannya. "Pagi Karyn, Serba" saapanya. "Wah, kelihatannya mood-mu sudah membaik ya?" goda Serba. "Lebih baik daripada kemarin, kurasa. Tapi kalau kau mengacau, aku akan membunuhmu" jawabnya sambil tersenyum. Serba terbahak. "Baiklah, Ayo berangkat!" ujar Karyn bersemangat.

Saat mereka sampai di markas, semua teman mereka telah datang kecuali Aidan. "Dia bilang padaku bahwa dia sakit" kata Xenya. "Well, berarti kita sudah lengkap" gumam Resvant. "Kita harus pergi ke Timur. Dua hari perjalanan dari sini" kata Lefya. "Baiklah, ayo berangkat!" ujar Gwen. Demikianlah Guild beranggotakan sembilan orang itu berangkat.

Malam tiba. Untungnya mereka telah menemukan gua untuk bermalam. "Perjalanan yang melelahkan" gumam Fallon. "Kita baru mencapai seperempat perjalanan, Fallon" kata Erberk. "Ya ya, kalau kau tak suka, kembali saja" sahut Mercha ikut-ikutan. Fallon mencibir. "Sudah, untuk malam ini kalian istirahatlah. Gwen dan aku akan berjaga" kata Xenya. Para anggota guild mengangguk dan mulai tertidur. Smentara itu, Gwen dan Xenya berjaga di luar.

"Apa kau benar-benar berpikir bahwa pedang itu ada, Xenya?" tanya Gwen memecah kesunyian. "Sebenarnya, aku tak yakin" ujarnya. "Tapi satu-satunya cara untuk mengetahuinya, adalah dengan mengeceknya, kan?" ujarnya lagi. Gwen mengangguk. Ia sudah tahu itu. Ia sendiri tidak benar-benar percaya kalau pedang itu ada. Sepengetahuannya, Pedang ElsNite adalah pedang yang memiliki kemampuan untuk membunuh orang dengan sekali tebas. Tentu saja tidak pernah ada orang yang menemukannya. Setelah bertahun-tahun tidak ada yang menemukannya, orang-orang berhenti mencari dan menganggap cerita itu hanyalah mitos. Sampai sekarang.

"Apa kau percaya, Gwen?" tanya Xenya tiba-tiba. "Kurasa aku tidak perlu menjawabnya" ujar Gwen. "Tapi kalau kau memang ingin jawaban, maka jawabannya adalah tidak" tambahnya. "Sudah kuduga" gumamnya sambil tersenyum. "Tapi kalau seandainya pedang itu benar-benar ada, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi. "Xenya! Jangan katakan padaku kau percaya pada mitos itu" kata Gwen dengan nada tak pecaya. "Aku bilang seandainya. Aku hanya ingin tahu" balasnya. Gwen menghela napas. "Jika pedang itu benar-benar ada, aku tak yakin apa yang akan kulakukan" jawab Gwen pada akhirnya. "Kupikir kau akan menjawab dengan hal seperti, 'aku akan gunakan untuk menegakkan keadilan' atau semacamnya" Xenya bergumam. "Tentu. Tapi hal yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang lain, kan? Aku harus bisa melihat dari semua sudut pandang sebelum bisa mengatakan hal besar seperti itu" jawabnya. Gwen tidak tahu kenapa Xenya tersenyum setelah mendengar jawabannya. Ia yakin bahwa Xenya memiliki pikiran yang sama dengannya.

"Baiklah. Kau istirahatlah. Aku tahu satu jam tidak akan cukup, tapi istirahat itu penting" kata Xenya. 'Kenapa dia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan?' pikir Gwen. Namun ia tak menyuarakannya. "Bagaimana denganmu, kau tidak akan istirahat?" "Aku akan berjaga di sini. Tenanglah. Aku akan baik-baik saja" kata Xenya. Gwen mengerutkan alis tanda tak setuju, tapi ia menurut. Ia masuk, untuk istirahat.

Satu jam kemudian, ia terbangun. Tidur satu jam memang tidak cukup. Tapi Gwen harus bersyukur. Xenya malah tidak tidur sepanjang malam. Gwen menghela napas. Ia segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah semuanya siap, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke arah timur.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar